Selasa, 09 April 2013

Khalifah Utsman bin Affan Korban Fitnah



Khalifah Utsman bin Affan Korban Fitnah


Beliau adalah Abu Abdillah Utsman bin Affan bin al-Ash bin Umayyah bin Abdi Syams bin Abdi Manaf. Nasab beliau bertemu dengan nasab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada kakek keempat yaitu Abdu Manaf, di masa jahiliah beliau dipanggil Abu Amr namun tatkala dari istri beliau yaitu Ruqayyah binti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terlahir seorang laki-laki yang diberi nama Abdullah lalu beliau berganti menjadi Abu Abdillah, dan beliau masyhur dengan julukan dzu nurain (pemilik dua cahaya).

Di masa jahiliyah Utsman bin Affan adalah seorang yang terpandang dan dimuliakan oleh kaumnya. Beliau dikenal sebagai seorang yang sangat pemalu, hartawan, dan pemilik petuah yang didengar. Karena itulah ia sangat dicintai dan dimuliakan oleh kaumnya. Ia tidak pernah sujud kepada sebuah patung pun, tidak pula berbuat keji, tidak pernah meminum khamar baik sebelum maupun setelah Islam. Utsman bercerita, “Aku tidak pernah bernyanyi, tidak pula panjang angan-angan, aku pun tidak pernah menyentuh dzakarku dengan tangan kananku setelah aku gunakan tangan itu untuk membai’at Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, aku tidak pernah minum khamar di masa jahiliah maupun setelah Islam.”
Keutamaan Utsman bin Affan
Beliau termasuk as-sabiqun al-awwalun (orang-orang yang pertama menyambut dakwah Islam). Beliau mengikrarkan diri sebagai seorang muslim berkat dakwah Abu Bakr Ash-Shidddiq pada umur 34 tahun. Di saat kaumnya menolak dan mengingkari seruan dakwah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ia justru membentangkan tangan, membuka hati, dan meyakini tanpa keraguan. Tatkala seruan hijrah dikumandangkan beliau adalah termasuk seorang yang tampil melaksanakan perintah sehingga beliau dua kali berhijrah, ke negeri Habasyah dan Madinah.
Keunggulan sahabat Utsman semakin tampak pada beberapa keadaan penting di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang saat itulah figur Utsman dikenal sebagai salah satu sahabat yang tidak disebut melainkan kebaikan. Di saat musim paceklik panjang, kemiskinan dan kefakiran menjadi bagian bagi setiap kaum muslimin. Di saat itu pula Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyerukan seruan jihad dan beliau tengah menyiapkan pasukan besar untuk diberangkatkan dalam Perang Tabuk melawan pasukan Romawi. Pasukan itu disebut jaisyul ‘usroh karena sulitnya kondisi materi para sahabat pada saat itu. Namun, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap mendorong para sahabatnya untuk berinfak dan bersedekah dalam rangka menyiapkan pasukan besar tersebut. Hingga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan,
Barang siapa yang menyiapkan jaisyul usyroh, maka baginya surga.”
Tiba-tiba datanglah seorang saudagar kaya yang dermawan dialah Utsman bin Affan membawa kepingan-kepingan dinar berjumlah 1000 dinar lalu diberikan di hadapan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam. Sambil memeganginya keluarlah ucapan yang masyhur dari bibir Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia,
“Tidaklah memudharatkan Utsman apa yang ia lakukan setelah ini.”
Dan juga pada saat jumlah kaum muslimin semakin bertambah dan Masjid Nabawi serasa tidak dapat lagi menampung jamaah, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
Barang siapa membeli lokasi milik keluarga fulan lalu menambahkan untuk perluasan masjid dengan kebaikan maka ia kelak di surga.” Lalu Utsman membelinya dari kantong uang miliknya lalu tanah itu diwakafkan untuk masjid.
Demikian juga tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hijrah ke Madinah maka tidak dijumpai air tawar kecuali dari sumur rumah. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
Barang siapa membeli sumur dan menjadikan gayung miliknya bersama dengan gayung milik kaum muslimin maka kelak ia di surga.” Mendengar ucapan tersebut Utsman pun segera membelinya.
Kemudian satu hal yang tidak boleh dilupakan – yang menambah kemuliaan sahabat Utsman, beliau adalah seorang mu’alim yang cinta kepada Alquran. Kecintaannya terhadap Alquran telah membuahkan hasil yang senantiasa dikenang hingga hari kiamat, peristiwa pengumpulan Alquran dan penyeragaman bacaan adalah bukti nyata bagi seorang yang mau merenunginya. Beliaulah sahabat yang telah meriwayatkan sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam,
Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Alquran dan mengajarkannya.”
Dan suatu hari Utsman memanggil orang-orang, lalu berwudhu di hadapan mereka, kemudian beliau mengatakan, “Barang siapa yang berwudhu semisal wudhuku ini lalu shalat dua rakaat dan tidak berbincang-bincang di dalamnya, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”
Beliau juga sering memperingatkan manusia dari bahaya dusta atas nama agama, dari beliaulah diriwayatkan sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, “Barang siapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja maka silakan mengambil tempat duduk di neraka.
Dan masih banyak lagi keutamaan-keutamaan beliau yang lain, namun tidak ada yang lebih menggembirakan dari itu semua dibandingkan persaksian Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bahwa Utsman adalah min ahlil jannah (salah satu penghuni surga).
Dari Abu Musa al-Asy’ari beliau berkata, “Suatu hari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk ke sebuah kebun dan beliau memerintahku untuk menjaga pintu kebun tersebut, maka datanglah seorang laki-laki meminta izin untuk masuk maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, ‘Izinkanlah ia masuk dan berikan kabar gembira kepadanya berupa surga.’ Ternyata ia adalah Abu Bakr. Lalu datang seorang laki-laki yang lain dan meinta izin untuk masuk, lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, ‘Izinkanlah ia masuk dan berikan kabar gembira kepadanya berupa surga.’ Ternyata dia adalah Umar. Kemudian datang lagi seorang yang lain meminta izin untuk masuk, namun sejenak Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terdiam, lalu beliau mengatakan, ‘Izinkanlah ia masuk dan berikan kabar gembira kepadanya berupa surga atas bala yang akan menimpanya.’ Ternyata dia adalah Utsman bin Affan.”
Ishaq bin Rahawaih mengatakan, “Tidak ada seorang pun sepeninggal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam orang yang paling baik di muka bumi ini kecuali Abu Bakr, dan tidak ada orang yang lebih baik sepeninggalnya kecuali Umar, dan tidak ada orang yang lebih baik sepeninggalnya kecuali Utsman, serta tidak ada orang yang lebih baik dan lebih mulia sepeninggalnya kecuali Ali.”
Gelombang Fitnah yang bertubi-tubi
Merupakan mukjizat kenabian, apa yang disabdakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pasti terjadi. Abu Hurairah telah meriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
Sesungguhnya kalian akan menjumpai setelahku fitnah dan perselisihan atau perselisihan dan fitnah.” Maka berkata salah seorang, “Lalu kepada siapa kami akan memihak?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Berpegangteguhlah kalian kepada al-Amiin ini dan sahabat-sahabatnya.” Lalu beliau mengisyaratkan kepada Utsman.”
Maka atas apa yang telah dikabarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Utsman pun mengetahui bahwa kelak ia akan dibunuh secara zalim, dan orang-orang yang keluar darinya akan menghalalkan darahnya adalah orang-orang munafik. Apa yang disabdakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam benar-benar terjadi, setelah beliau diangkat menjadi Khalifah kaum muslimin yang sah, beliau banyak menuai protes, banyak menerima kritikan dan tuduhan dari para pemberontak. Api itu makin menghalalkan darah Utsman. Di antara tuduhan-tuduhan keji mereka:
Pertama: mereka menuduh Utsman tidak berlaku adil dalam pengangkatan para pejabatnya karena ia mengutamakan keluarganya dan mencopot jabatan sebagian sahabat kibar (senior), serta menggantinya dengan orang-orang yang lebih muda umurnya.
Jawaban atas tuduhan tersebut:
Adapun penggantian jabatan dari sahabat senior kepada para pemuda, maka sungguh bagi beliau terdapat panutan yang baik sebelumnya. Bukankah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah menyiapkan pasukan besar untuk memerangi Romawi lalu beliau menunjuk panglimanya adalah Usamah bin Zaid yang tatkala itu masih berusia belia, sedang di belakangnya banyak para sahabat senior seperti Abu Bakr dan Umar…?? dan sebelum pasukan besar tersebut diberangkatkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terlebih dahulu meninggal dunia. Apa reaksi manusia tatkala itu, mereka datang kepada Umar untuk membujuk Abu bakar, agar ia mencopot jabatan Usamah bin Zaid sebagai panglima, maka sahabat Abu Bakr marah besar dan mengatakan kepada Umar, “Wahai Umar, ia adalah orang yang telah diangkat langsung oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, lalu engkau memintaku untuk mencopotnya?!!”
Al-Imad Ibnu Katsir mengatakan, “Utsman adalah seorang yang berakhlak mulia, sangat pemalu, dan dermawan. Beliau sering mendahulukan keluarga dan kerabat-kerabatnya karena Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam rangka untuk ta’liful qulub (melunakkan hati), untuk suatu tujuan yang kekal melalui perkara-perkara dunia yang fana sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga telah memberi suatu kaum dan tidak memberikan kepada kaum yang lain untuk suatu tujuan agar mereka mendapat hidayah dan iman, dan sungguh untuk tujuan ini suatu kaum memahaminya, tidak sebagaimana kaum Khawarij telah melakukan protes atas apa yang diperbuat oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam.”
Kedua: beliau dituduh telah membuat perkara baru yang tidak ada contoh sebelumnya seperti pengumpulan ayat-ayat Alquran dalam sebuah mushaf, beliau tidak meng-qashar shalat tatkala di Mina, dan beliau menambahkan adzan menjadi dua kali pada hari Jumat.
Jawaban atas tuduhan tersebut:
Adapun beliau membakar seluruh mushaf dan menjadikan satu mushaf saja yang disepakati maka justru para ulama memandang hal itu adalah perbuatan mulia yang menjadikan kemuliaan bagi sahabat Utsman, karena berarti beliau telah memupus benih-benih perpecahan di tubuh kaum muslimin perihal bacaan kitab suci mereka. Lihatlah apa tindakan Abu Hurairah setelah Utsman melakukan apa yang beliau lakukan terhadap Alquran lalu sahabat Abu Hurairah menemuinya seraya mengatakan, “Sungguh engkau telah benar dan mencocoki kebenaran.”
Adapun tatkala di Mina beliau shalat sempurna dan tidak meng-qashar, maka beliau menjawab sendiri tuduhan tersebut, “Ketahuilah, yang demikian adalah karena aku mendatangi suatu negeri yang di dalamnya terdapat keluargaku, sehingga aku menyempurnakannya karena dua asalan bermukin dan menjenguk keluarga.”
Dan Al-Hafizh telah menukil dari Al-Iman az-Zuhri beliau mengatakan, “Utsman shalat sempurna di Mina empat rakaat karena orang badui (Arab pegunungan) di tahun itu sangatlah banyak, maka Utsman hendak mengajari mereka bahwa shalat (zhuhur dan Ashar) adalah empat rakaat.”
Adapun tentang beliau menambahkan adzan sebelum Jumat karena beliau memandang terdapat maslahat yang menuntut akan hal tersebur, karena kota Madinah semakin luas dan orang-orang semakin banyak sehingga adzan tersebut adalah tanda bahwa shalat Jumat akan segera ditegakkan.
Al-Imam al-Bukhari meriwayatkan dari Saib bin Yazid bahwa Utsman menambahkan adzan kedua pada masanya karena tatkala itu manusia yang tinggal di Madinah sudah sangatlah banyak.
Dan seandainya perbuatan itu munkar maka pasti akan diingkari oleh para sahabat senior yang tatkala itu masih hidup. Kalau demikian keadaannya, maka hal itu merupakan salah satu sunah khulafaur rasyidin dan sunah mereka adalah termasuk sunah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang kita diperintah untuk berpegang teguh dengannya.
Ketiga: Beliau dicela karena beberapa tindakan di antaranya karena beliau telah absen dalam Perang Badar, dan ketika Perang Uhud beliau termasuk orang-orang yang ikut lari ke belakang dan beliau tidak ikut dalam Bai’at Ridhwan.
Sahabat Abdullah bin Umar telah menjawab tuduhan-tuduhan tersebut sebagaimana yang telah diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhari:
Seorang laki-laki datang dari Mesir untuk berhaji, lalu ia melihat suatu kaum tengah duduk-duduk. Ia bertanya, “Siapa mereka?” Lalu dijawab, “Mereka adalah orang-orang Quraisy.” Ia berkata, “Siapa syaikh mereka?” Mereka menjawab, “Abdullah bin Umar.” Lalu ia bertanya, “Wahai Abdullah bin Umar, aku akan menanyakan beberapa hal kepadamu. Apakah engkau tahu bahwa Utsman telah lari dalam Perang Uhud?” Beliau menjawab, “Benar.” Ia melanjutkan, “Apakah engkau tahu bahwa ia juga telah absen dari Perang Badar?” Beliau menjawab, “Benar.” Ia bertanya lagi, “Apakah engkau tahu bahwa ia juga telah absen dalam Bai’at Ridhwan?” Beliau menjawab, “Benar.” Lalu laki-laki itu mengatakan, “Allahu Akbar!!”
Ibnu Umar mengatakan, “Kemarilah, aku akan jelaskan kepadamu. Adapun Utsman telah lari dalam Perang Uhud maka aku bersaksi bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memaafkannya, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
إِنَّ الَّذِينَ تَوَلَّوْا مِنكُمْ يَوْمَ الْتَقَى الْجَمْعَانِ إِنَّمَا اسْتَزَلَّهُمُ الشَّيْطَانُ بِبَعْضِ مَاكَسَبُوا وَلَقَدْ عَفَا اللهُ عَنْهُمْ إِنَّ اللهَ غَفُورٌ حَلِيمٌ
Sesungguhnya orang-orang yang berpaling di antaramu pada hari bertemu dua pasukan itu, hanya saja mereka digelincirkan oleh setan, disebabkan sebagian kesalahan yang telah mereka perbuat (di masa lampau) dan sesungguhnya Allah telah memberi maaf kepada mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun.”(Q.S. Ali-Imran: 155)
Adapun beliau absen dalam Perang Badar karena tatkala istri beliau yaitu putri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang sakit keras, sehingga ia diizinkan untuk tidak hadir dalam peperangan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan kepadanya, “Sesungguhnya bagimu seperti pahalanya orang yang ikut menyaksikan Perang Badar.” Dan mengenai absennya beliau dalam Bai’at Ridhwan karena seandainya ada orang yang lebih mulia dari Utsman di Mekah maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam akan mengutusnya ke Mekah, maka tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutusnya, beliau mengatakan ini adalah bai’atnya Utsman.” Setelah itu Ibnu Umar mengatakan kepada laki-laki tersebut, “Sekarang pergilah engkau.”
Wafatnya Utsman bin Affan Khalifah
Tatkala syubhat-syubhat – yang hakikatnya lemah tersebut – tidak dapat terbendung maka api kebencian telah menyulut pada hati-hati para pemberontak. Akhirnya, mereka datang ke Madinah dan mengepung rumah Utsman. Mereka meminta agar Utsman meninggalkan kekhalifahannya atau mereka akan membunuhnya.
Namun, Ibnu Umar segera masuk menemui Utsman dan mendorongnya agar ia jangan sampai menanggalkan kekhalifahannya karena berarti itu telah membuat sunah yang jelek, sehingga setiap kali manusia tidak menyenangi pemimpinnya, maka mereka akan mencopot paksa kepemimpinan tersebut. Utsman pun menyadari bahwa inilah fitnah yang sejak jauh-jauh hari telah diberitakan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam. Karena itu, Utsman hanya bisa bersabar dan menyerahkan urusannya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Akhirnya, orang-orang Khawarij tersebut memanjat rumah Utsman, lalu pedang-pedang mereka mengalirkan darah Utsman yang suci sedang beliau tengah berpuasa dan membaca kitabullah, hingga tetesan darah pertama tatkala membaca,
فَسَيَكْفِيكَهُمُ اللهُ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
Maka Allah akan memelihara kamu dari mereka. Dan Dialah yang Maha mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Q.S. Al-Baqarah: 137)
Di malam hari sebelum Utsman meninggal dunia, ia bermimpi bertemu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau mengatakan, “Wahai Utsman, berbukalah bersama kami.” Dan tatkala shubuh ia berpuasa dan meninggal dunia di hari itu juga.
Mutiara Teladan
Beberapa pelajaran berharga di antaranya:
  1. Aksi demonstrasi dan protes adalah buah teladan dari kaum Khawarij, dengan berpijak pada syubhat-syubhat yang lemah mereka menghalalkan yang haram. Pada hakikatnya mereka adalah orang-orang yang senang membuat kerusakan di muka bumi.
  2. Merupakan kewajiban seorang mukmin tatkala menerima berita hendaklah untuk tasabbut (mencari kebenaran berita) terlebih dahulu, jangan langsung asal percaya. Terlebih lagi kalau berita itu datang dari orang-orang fasik yang tidak menjaga muru’ah. Alquran mengajari kita berhati-hati dalam menerima berita-berita yang belum jelas sumbernya apalagi yang menyangkut kehormatan kaum muslimin.
  3. Figur Utsman adalah teladan bagi kita dalam membelanjakan harta yang telah diberikan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka hendaknya para saudagar kaya, para konglomerat, sadar bahwa harta akan bermanfaat baginya bila digunakan untuk menunjang kehidupan akhirat yang kekal.
Sumber: Majalah Al-Furqon, Edisi 08 Tahun ke-10 Muharram 1431 H/2010

Jumat, 22 Maret 2013

MENGALAH UNTUK MENANG (senandung di kampung derita)



MENGALAH UNTUK MENANG (Senandung dilembah Gunung Kulabu di kampung Halaman Tercinta)

Perjalanan hidup ketika saya pulang kampong di bulan Februari  2013 yang cukup lumayan melelahkan bagi penulis akan tetapi itu semua sirna ketika penulis sudah sampai di kampung tercinta di bawah lembah Gunung Kulabu, disaat ketika ber jumpa kembali dengan Mak, Ayah Bunda tercinta juga dengan adik-adik saya yang sangat aku sayangi terutama si bungsu yang masih kecil sudah berani kos di asrama, keluar daerah tepatnya di Kota Nopan dengan berat hati orang tua yang harus berpisah dengannya. Sekarang tanpa terasa bagi penulis dia sudah kelas Dua  Tsanawiyah, dan dia juga selalu dapat juara di kelasnya, saya merasa bangga punya adaik- yang rajin dan pintar.  semester 3 yang lalu dia sms abang yang lagi di Jakarta melanjutkan studi S2, bahwa dia mendapat juara 1 di kelasnya. Adik yang ke-2 sudah semester 4 di IAIN SU Medan, ia mendapat nilai tertinggi dikelasnya dengan IPK 3,91. Alhamdulillah ya Allah saya diberikan adik-adik yang dapat membanggakan keluarganya terutama orangtuanya. Mereka ini yang sudah lama rasanya  penulis tinggalkan, mulai semenjak lebaran kemarin karena merantau melanjutkan studi ke graduate school University Islam Syarif  Hidayatullah Jakarta.
Waktu itu penulis di kampung halaman menjumpai suatu peristiwa yang aneh tapi nyata menurut pikiran penulis. Ketika itu diwaktu pagi menjelangsiang hari, saya mak dan adik sedang menjemur padi untuk di giling supaya dijadikan beras.Ketika sudah selesai si tukang masin nyamarah-marah takkaruan ntah karena ..! rupanya karena padinya tidak dikasi digiling di mesin padi miliknya. Kejadian itu yang sempat mengakibatkan peragmulut dengan mak. Dia marah dan padinya diserakin dijalanan. Penulis Istigfar saja lantas akhirnya penulis mengatakan kepada sipenggiling padikenapa kami tidak mengasi padi kepadanya, karena kerjanya tidak bagus kurang teliti mengerjakan penggilingan padi akhirnya hasil dari gilingan trsebut tidak bagus dan memuaskan.
            Setelah penulis jelaskan persoalannya  baru dia diam dan pergi nyelonong denagan motornya.Ternyata menurut kebiasaan sebelumnya memang sudah sifatnya yang seperti itu. Dari peristiwa itu kalau kita mudah terpancing dan dibawa emosi akan berakibat permasalahan yang akan semakin panjang yang bisa berujung kepada permusuhan.  Penulis akhirnya mengatakan kepada mak kita sabar maklum saja jangan diambil hati karena memang sudah sifat tabiatnya yang seperti itu.
Seperti inilah kisah nyata yang dijumpai dalam lingkungan sosial, terkadang yang tidak kita inginkan dating ditengah tengah kehidupan kita.Karena memangitulah dinamika kehidupan yang kita tidak mungkin lari dari segla bentuk yang harus kita hadapi dari corak macam ragam sikap orang dalam kehidupan tersebut. Ini merupakam suatu pengalaman hidup. Penulis merenung sejenak sambil berpikir ternyata hidup ini tidak semudah yang kita bayangkan dan kitaharapkan.
Sebagaimana kata orang bijak …!
“Rambut memang boleh, sama-sama hitam akan tetapi sikap, tabiat, perangai setiap orang pasti
berbeda-beda.”

Wahai saudaraku sekalian yang kucintai karena Allah…!
Apakah anda pernah melihat anak nelayan memancing kepiting?
Mereka mengikatkan tali dalam potongan dari sebatang bambu.Ujungnya diikatkan dikasi batu kecil. Lalu bambu itu diayun kearah kepiting yang diincar, dan disentak-sentakkan agar kepiting itu marah. Begitu sikepiting marah, ia akan mencengkeram batu kecil itu dengan kuat dan terjerat lah ia si kepiting karena kemarahannya!
Karena adanya akibat yang serupa dengan gambaran di atas, itulah sebabnya amarah kita tidak boleh mudah terpancing melihat orang jahat. Alasannya, itu hanya akan membawa kita kepada kejahatan. Dalam Al Quran banyak disinggung oleh Allah melalui firmanNy agar jangan marah kepada orang yang berbuat jahat. Juga dipertegas oleh Nabi kita Muhammad SAW supaya kitajanganmudah terpancing amarah alias emosi.
Ketika Nabi sedang bermuzakaroh dengan sahabatNya …!
Tiba-tiba ada yang datang seorang dari kalangan suku lain yang bertanya kepada beliau..!
Ia kemudian bertanya kepada Rasul perihal kebaikan apa yang harus sayalakukan wahai Rasul ?
Jangan marah, jangan marah, jangan marah, Rasul mengatakan dengan mengulang sampai tiga kali, itu mengisyaratkan supaya kit ajangan mudah terpancing emosi.
Emosi tinggi bisa membua tkita berbuat sesuatu yang berakibat buruk. Misalnya: karena ingin melampiaskan kemarahan, kita justru menyakiti orang lain baik fisik atau melukai perasaan orang. Bahkan sekalipun kemarahan itu beralasan! Kita bisa menjadi marah atau irihati terhadap orang  jahat, yang bebas berbuat jahat, tetapi seolah-olah hidup mereka tetap aman dan terlindungi dari murka Allah.
Dengan beranggapan seakan-akan Allah itu tidak berlaku adil. Sepertinya Dia membiarkan saja jika orang benar lebih kerap bermasalah dibanding orang jahat.
Benarkah?
Mengalah bukan berartikalah. Mengalah disini untuk “Menang” untuk tidak jatuh dalam perbuatan dosa.
Saudaraku seiman dan seaqidah sekalian yang dirahmati Allah SWT….!
Jika kita harus menyaksikan kefasikan merajalela dan kita tidak bisa berbuat apa-apa, kita harus meneguhkan hati untuk tidak marah. Ya, marah kepada orang fasik hanya membuat kita masuk kedalam pancingan mereka. Dan kemarahan yang tak terkendali justru akan menjerat pelakunya kedalam lumbsh kenidtssn yskni dosa. Ingat saja penjelasan Al Quran. Orang fasik tak kan bertahan lama dalam keberdosaan, kejahatan mereka akan terbongkar juga. Tuhan selalu adil. Dia tidak menutup mata atas kefasikan yang mereka kerjakan.
KEBERUNTUNGAN  ORANG  FASIK  HANYA SEMENTARA KEBERUNTUNGAN ORANG BENAR SUNGGUH TAK TERKIRA Di DUNIA DAN DIAKHIRAT KELAK.

Kamis, 21 Februari 2013

WASPADAI PERANGKAP SYETAN (TIPU MUSLIHAT SYETAN)


WASPADAI PERANGKAP SYETAN (TIPU MUSLIHAT SYETAN)
            Setan adalah musuh bebuyutan manusia semenjak nenek monyang kita nabi Adam As. Maka hendaklah senantiasa berhati-hati dan waspada terhadap segala tipu muslihat, perangkap syetan yang mereka lancarkan untuk menjerumuskan manusia kedalam lembah yang hina. Di antara tipu muslihat yang mereka terus usahakan untuk menyesatkan manusia adalah melalui celah perbuatan dosa maksiat dengan berbagai tingkatan dosanya.
            Imam Ibnu Qoyyim Aljauziyah dalam kitabnya “madaarijus Saalikin” telah menjelaskan berbagai macam jurus tipu muslihat syetan untuk menjerumuskan manusia. Berikut ini ada beberapa langkah-langkah yang dilakukan syetan dalam menyasatkan umat manusia:
Pertama: Kekufuran dan kesyirikan
            Yaitu: ajakan rayuan syetan kepada manusia agar kufur kepada nikmat Allah Subhanahu Wata’ala, keluar dari agamanya dan engkar terhadap perintahnya. Di antara perbuatan yang berbentuk kekufuran yang masih samar bagi kebanyakan manusia adalah ajakan berbuat kesyirikan.
            Syirik merupakan ajakan dan perangkap syetan yang terbesar untuk menyesatkan manusia, karena syetan mengetahui bahwa dosa syirik tidak akan diampuni oleh Allah subhanahu wata’ala.
            Apabila syetan ini menang mampu menggelincirkan manusia dari kebenaran dengan segala perangkapnya, maka perusuhan antara dia dengan manusia akan berkurang. Namun walaupun begitu dia akan menjadikan bani Adam yang membuat ajakan dan seruannya trsebut sebagai bala tentaranya yangdisebut dengan agen-agen syetan. Akn tetapi dihari kiamat nanti syetan akan berlepas diri dari tanggung jawabnya terhadap manusia tersebut.
Allah Subhanahu Wata’ala berfirman, yang artinya: dan tatkala perkara (hisab) telah diselesaikan, syetan berkata “sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang benar, dan akupun telah menjanjikan kepadamu, tapi aku menyalahinya. Sekali-kali tiada kuasa atasku terhadapmu melainkan (sekedar) aku menyeru kamu lalu kamu mematuhi seruanku. Oleh sebab itu janganlah kamu mecerca aku, akan tetapi cercalah dirimu sendiri. Aku sekali-kali tidak dapat menolongmu dan kamupun tidak dapat menolongku. Sesungguhnya aku tidak membenarkan perbuatanmu menjadikan aku sekutu (bagi Allah) sejak dahulu” sesungguhnya hamba-hamba yang zalim itu mendapat siksaan yang sangat pedih” (QS. Ibrahim: 22).
            Akan tetapi jikalau manisa bisa selamat dantidak tertipu oleh perangkap syetan tersebut karena mendapat ilmu dan hidayah dari Allah Subhanahu Wata’ala, meskipun demikian setan tidakjuga putus asa, dai dia akan terus berusaha dengan langkah atau cara yang lain. Seperti langkah dibawah ini:
Kedua: Berbuat Bid’ah
            Apabil syetan gagal menyesatkan manusia dengan cara yang pertama, yakni mensyirikkan manusia, maka dia akn berusaha manusia dengan cara yang lain, yaitu melalui celah kebid’ahan. Oleh karenanya wajib bagi tiap muslim mengetahui perbedaan antara yang sunnah dengan yang bid’ah. Bujukan perangkap syetan langkah yang kedua ini, bisa dengan cara meyakini sesuatu yang berlawanan dengan kebenaran, karenanya Allah mengutus Rasul-rasulnaya untuk  memberikan berita gembira dan ancaman dengan petunjuk yang telah diturunkan melalui kitab-kitab Nya, yaitu demgam cara membujuk manusia untuk beribadah kepada Allah Subhanahu Wata’ala dengan cara yng tidak diiznkan oleh Nya.
            Dalam hal ini Imam Sufyan Ats-Tsauri Rahimahulloh berkata: “Bidah lebih disenangi oleh Iblis daripaada perbuatan maksiat, karena pelaku maksiat pada umumnya masih bisa bertaubat bagi yang diberi kesempatan oleh Allah, sedangkan orang yang berbuat bid’ah tidak bertaubat.”
Apila seorang hamba selamat dari perangkap yang ke-dua ini dan ia mampu melawannya dengan cahaya sunnah, (berpegang teguh dengannya) mengukuti dan berjalan diatas rel yang diridhai oleh Allah, sebagai mana orang-orang terbaik dikalangan sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, maka setan terusmencari cara lain dengan langkah yang ke-tiga.
Ketiga: Dosa Besar
            Apabila syetan gagal menjerumuskan manusia lewat cara yang kedua yakni jalan bid’ah dalam beribadah, dia akan berusaha menyesatkan manusi dengan cara yang lain lagi, yaitu mengajak manusia untuk berbuat dosa besar. Jika dia seorang alim yang menjadi panutan umat, maka dosa yang akan diperbuat tersebar dikalangan umat, sehingga umat akan lari dan tidak mau mengambil ilmu darinya.(Tafsir Qoyyim h. 613). Sekilas kita kembali kepada sahabat nabi yang bernama Abdullah bin Abbas berkata: Dosa besar adalah dosa yang ditutup oleh Allah dengan murka, laknat dan asab nerakaNya.(Tafsir Ath Thabari 5/41).
            Maka  sudah semestinya setiap muslim untuk menjauhi dosa-dosa besar, agar selamat dari asab Allah dan ancaman siksaanNya. Perhatikan firman Allah dengan tegas dikatakan:”Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar diantara dosa-dosa yang dilarang untuk melaksanakannya niscaya akan kami hapus kesalahan-kesalahanmu (dosa-dosa kecil) dan memasukkan kamu kedalam stempat yang mulia yaitu surga.” (QS. An Nisa : 31).
            Orang mukmin yang melakukan dosa besar adalah orang yang keimanannya sedang menurun. Apabila ia meninggal tidak sempat bertaubat dari dosanya, maka perkaranya dikembalikan kepada Allah Subhanahu Wata’ala tentang keputusan yang akan dijalaninya.
            Inilah langkah yang ketiga yang ditempuh oleh syetan, apabila dengan cara ini juga tidak juga  mampu menjerumuskan manusia, maka setan akan mengambil langkah yang ke-empat, yaitu dengan melakukan dosa-dosa yang paling kecil.
Ke-Empat: Dosa Kecil
            Apabila setan tidak juga berhasil menjerumuskan manisia lewat dosa besar, tapi perlu kita ketahui “setan tidak pernah putusasa”ia akan berusaha membujuk untuk melakukan dosa-dosa kecil yang apa bila dikumpul, lama kelamaan akan dapat membinasakan diri manusia. (Tafsir Qoyyim h. 613).
            Banyak sekali hadis Rasul yang menerangkan tentang peringatan terhadap dosa-dosa kecil. Diriwayatkan oleh ummul muminin Aisyah ra. ia berkata: Rasulullah SAW berkata kepadaku, Wahai Aisyah waspadalah dari meremehkan amal-amalan karena sesungguhnya amalan-amalan itu akan dituntut oleh allah Subhanahu Wata’ala untuk dipertanggung jawabkan.” HR Abu Daud , Darimi, Ibnu Hibban dan Ahmad).
Imam Ibnu Bththal ra. Ia berkata:”dosa-dosa kecil apabila banyak dan dilakukan terus menerus maka lama kelamaan akn menjadi besar juga.”(Fathul Bari 11/337).
Al Imam Ibnu Qoyyim Syekhul Islam berkata: “setan senantiasa akan membujuk manusia untuk melakukan dosa kecil sehingga mengaggap enteng dosa taersebut, maka orang berbuat dosa besar dengan rasa takut masih lebih baik ketimbang orang yang meremehkan dosa-dosa kecil” (Tafsir Qoyyim h.613).
Abdullah Ibnu Mas’ud Ra. Berkata: seorang mukmin hendaknya menyikapi dosanya bagaikan orang yang sedang duduk dibawah gunung besar yang nyaris menimpanya. Sedangkan orang yang fajir melihat dosanya bagaikan lalat yang hinggap dihidungnya sekali kibas ia akn terbang.” (HR. Bukhari).
Bilal bin Sa’id Rahimahulloh berkata “janganlah engkau melihat kecilnya dosa, tapi perhatikanlah kepada siapa engkau berbuat maksiat.”
            Semoga kita deberikan oleh Allah taufiq dan hidayahNya sehingga kita dapat terhindar dari perangkap tipu muslihat Syetan, Amiin.

Minggu, 20 Januari 2013

BAGAIMANA SAAT AJAL DATANG MENJEMPUT NANTI ...

Saat Ajal Menjemputku Nanti ...

Ketika ajal menjemputku nanti, ku harap ada bias-bias kebaikan amal yang sedia menemani.

Ketika maut merenggutku nanti, ku ingin bersandar pada tirai warna pelangi bertudung sutra senja dari ketulusan budi dengan iman di hati sebagai bekal yang akan ku bawa nanti.

Ketika malaikat maut mengunjungiku nanti diatas pembaringan jasad, ku nanti bimbinganmu menuntun lafadz thayyibah nan indah.

Ketika sakaratul maut nanti, meski tak sempat sebenarnya ada yang ingin aku sampaikan kepadamu sahabat.

Sebentar lagi akan sirna semua nikmat duniawi, beberapa detik lagi tak kan kau jumpai senyum, canda, bahkan tangis dari raut muka kotor ini.

Hanya berharap semoga ikatan yang di jalin diatas pondasi cinta dan benci semata karena Allah bisa mempertemukan kita di syurga nanti.

Janganlah bersedih hati atas prahara ini, hapus air matamu aku akan menunggumu karena pasti suatu saat nanti kau akan menyusulku.

Ambillah kebaikan dari ikatan ini supaya manfaatnya masih bisa ku dapati, dan aku berharap engkau tidak menceritakan kepada orang-orang atas keburukan yang telah aku lakukan selama hidupku.

Ku nanti syafaatmu, ketika malaikat penjaga neraka meluluh-lantahkan ragaku dan membakar kulit tipis ku, supaya aku bisa merasakan wangian syurga bersamamu.

Saat jasad ku di usung di dalam keranda berbalut harum kenanga dan melati, do’akan aku. Semoga setelah kau kuburkan nanti, dengan Rahmat dan belas kasihNya bisa ku jawab pertanyaan-pertanyaan dari kedua malaikat itu. Agar lapang kuburku, supaya tak kualami penyempitan kubur yang akan meremukkan tulang-tulang rusukku.

Salam kesejahteraan ku sampaikan untukmu, bagimu masih ada waktu memperbaiki diri dan memperbanyak amal shalih. Sekarang waktu ku hampir habis, aku akan merindukan saat kita larut dalam sedu tangisan dzikir malam itu.

Semoga kita terus berusaha untuk mempersiapkan diri untuk menghadapi maut tersebut
sebelum masa usia kita habis
selamat berjuang ........mengharungi kehidupan yang fana ini
yang penuh dengan onak dan duri
Jalan yang mendaki lagi sukar 
sebagaimana yang dijelaskan dalam Al Quran surah Al Balad

 Semoga kita dapat mengambil ikhtibar ....

PERMOHONAN ANTARA SEPASANG KEKASIH ...

PINTA SEORANG ISTRI ...

Bismillahir-Rahmaanir-Rahim ... Kadangkala mungkin tergambar di benak fikiranmu, bahwa engkau telah salah ketika memilih diriku menjadi pasanganmu. Kadang kala ia mengganggu dalam pergaulan sehari-harimu denganku, terkadang ku takut perasaan cintamu berubah menjadi benci, limpahan kasih sayangmu menjelma menjadi kemarahan, dan ketenangan pun berubah menjadi ketegangan.

Suamiku…..

Di saat engkau masih sibuk dengan pekerjaan yang tak kunjung selesai, tak jarang aku kau abaikan. Waktu di rumah pun, kadang ku ikhlaskan demi masa depanmu. Bukankah engkau tahu aku pun butuh perhatian darimu. Terkadang ku cari perhatian itu, namun terlihat salah dipandanganmu. Kalaulah itu terlihat salah, semoga engkau bisa melihat kebaikanku yang lain. Bukankah Allah SWT yang mempertemukan dan menyatukan hati kita berpesan, “Dan pergaulilah mereka (isterimu) dengan baik. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” [QS: An Nisa' 19].

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam yang kita cintai pun berpesan, “Sempurnanya iman seseorang mukmin adalah mereka yang baik akhlaknya, dan yang terbaik (pergaulannya) dengan istri-istri mereka.” Jika engkau melihat kekurangan pada diriku, ingatlah kembali pesan beliau, Jangan membenci seorang mukmin (laki-laki) pada mukminat (perempuan) jika ia tidak suka suatu kelakuannya pasti ada juga kelakuan lainnya yang ia sukai. (HR. Muslim)

Sadarkah engkau bahwa tiada manusia di dunia ini yang sempurna segalanya? Bukankah engkau tahu bahwa hanyalah Alllah yang Maha Sempurna. Tidaklah sepatutnya bila kau hanya menghitung-hitung kekurangan pasangan hidupmu, sedangkan engkau sendiri tak pernah sekalipun menghitung kekurangan dan kesalahanmu. Janganlah engkau mencari-cari selalu kesalahanku, padahal aku telah taat kepadamu.

Saat diriku rela pergi bersama dirimu, kutinggalkan orangtua dan sanak saudaraku, ku ingin engkaulah yang mengisi kekosongan hatiku. Naungilah diriku dengan kasih sayang, dan senyuman darimu. Ku ingat pula saat aku ragu memilih siapa pendampingku, ketakwaan yang terlihat dalam keseharianmu-lah yang mempesona diriku.

Bukankah sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, Ali bin Abi Tholib saat ditanya oleh seseorang, “Sesungguhnya aku mempunyai seorang anak perempuan, dengan siapakah sepatutnya aku nikahkan dia?” Ali r.a. pun menjawab, “Kawinkanlah dia dengan lelaki yang bertakwa kepada Allah, sebab jika laki-laki itu mencintainya maka dia akan memuliakannya, dan jika ia tidak menyukainya maka dia tidak akan menzaliminya.” Ku harap engkaulah laki-laki itu, duhai suamiku.

Saat terjadi kesalahan yang tak sengaja ku lakukan, mungkin saat itu engkau mendambakan diriku sebagai istri tanpa kekurangan dan kelemahan, sadarlah, sesungguhnya egois telah menguasai dirimu. Perbaikilah kekurangan diriku dengan lemah lembut, janganlah kasar terhadapku. Bukankah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam telah mengajarkan kepada dirimu, saat Muawiah bin Ubaidah bertanya kepada beliau tentang tanggungjawab suami terhadap istri, beliaupun menjawab, “Dia memberinya makan ketika ia makan, dan memberinya pakaian ketika dia berpakaian.” Janganlah engkau keras terhadapku, karena Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam pun tak pernah berbuat kasar terhadap istri-istrinya.

Duhai Suamiku…

Tahukah engkau anugerah yang akan engkau terima dari Allah di akhirat kelak? Tahukah engkau pula balasan yang akan dianugerahkan kepada suami-suami yang berlaku baik terhadap istri-istri mereka? Renungkanlah bahwa, “Mereka yang berlaku adil, kelak di hari kiamat akan bertahta di singgasana yang terbuat dari cahaya. Mereka adalah orang yang berlaku adil ketika menghukum, dan adil terhadap istri-istri mereka serta orang-orang yang menjadi tanggungjawabnya.” [HR Muslim]. Kudoakan bahwa engkaulah yang kelak salah satu yang menempati singgasana tersebut, dan aku adalah permaisuri di istanamu.

Jika engkau ada waktu ajarkanlah diriku dengan ilmu yang telah Allah berikan kepadamu. Apabila engkau sibuk, maka biarkan aku menuntut ilmu, namun tak akan kulupakan tanggungjawabku, sehingga kelak diriku dapat menjadi sekolah buat putra-putrimu. Bukankah seorang ibu adalah madrasah ilmu pertama buat putra-putrinya?
Semoga engkau selalu mendampingiku dalam mendidik putra-putri kita dan bertakwa kepada Allah.

Wahai Allah,
Engkau-lah saksi ikatan hati ini…

Aku telah jatuh cinta kepada lelaki pasangan hidup ku, jadikanlah cinta ku pada suamiku ini sebagai penambah kekuatan ku untuk mencintai-Mu. Namun, kumohon pula, jagalah cintaku ini agar tidak melebihi cintaku kepada-Mu, hingga aku tidak terjatuh pada jurang cinta yang semu, jagalah hatiku padanya agar tidak berpaling pada hati-Mu. Jika ia rindu, jadikanlah rindu syahid di jalan-Mu lebih ia rindukan daripada kerinduannya terhadapku, jadikan pula kerinduan terhadapku tidak melupakan kerinduannya terhadap surga-Mu. Bila cintaku padanya telah mengalahkan cintaku kepada-Mu, ingatkanlah diriku, jangan Engkau biarkan aku tertatih kemudian tergapai-gapai merengkuh cinta-Mu.

Ya Allah,

Engkau mengetahui bahwa hati-hati ini telah berhimpun dalam cinta pada-Mu, telah berjumpa pada taat pada-Mu, telah bersatu dalam dakwah pada-Mu, telah berpadu dalam membela syariat-Mu. Kokohkanlah ya Allah ikatannya. Kekalkanlah cintanya. Tunjukilah jalan-jalannya.Penuhilah hati-hati ini dengan nur-Mu yang tiada pernah pudar. Lapangkanlah dada-dada kami dengan limpahan keimanan kepada-Mu dan keindahan bertawakal di jalan-Mu.

Wallahu’alam bishshawab, ..
Wabillahi Taufik Wal Hidayah, ...

Salam Terkasih ..
Dari Sahabat Untuk Sahabat ...

... Semoga tulisan ini dapat membuka pintu hati kita yang telah lama terkunci ...

~ o ~

Salam santun dan keep istiqomah ...

--- Jika terjadi kesalahan dan kekurangan disana-sini dalam catatan ini ... Itu hanyalah dari kami ... dan kepada Allah SWT., kami mohon ampunan ... ----

Semoga bermanfaat dan Penuh Kebarokahan dari Allah ...
Silahkan DICOPAS atau DI SHARE jika menurut sahabat note ini bermanfaat ....

Jangan lupa SHARE ya ukhti :)