Minggu, 05 Mei 2013

Bagaimanakah Manusia Diuji Menurut al-Qur’an?

Bagaimanakah Manusia Diuji Menurut al-Qur’an?
Pertanyaan
Menurut al-Qur’an bagaimanakah manusia itu diuji?
Jawaban Global
Allah Swt dalam al-Qur’an berfirman, “Aku mencipta manusia supaya Aku menguji di antara mereka siapa yang paling baik amalnya” yang dimaksud dengan ujian dan cobaan yang digeral Tuhan tentu berbeda dengan pelbagai ujian yang diselenggarakan manusia.
Ujian-ujian yang diselenggarakan manusia adalah untuk mengenal lebih baik dan menghilangkan keburaman dan ketidaktahuan. Namun ujian Ilahi sejatinya adalah untuk penempaan dan tarbiyah manusia. Artinya ujian dan cobaan Ilahi adalah ruang-ruang untuk mentarbiyah, menempa dan menyempurnakan manusia.
Allah Swt menggunakan beberapa jalan dan cara untuk menguji manusia sesuai dengan kemampuannya. Terkadang melalui pelbagai kesulitan dan kepelikan hidup, terkadang dengan kebaikan dan keburukan, melalui banyaknya harta dan kekayaan, modal, anak, musibah dan lain sebagainya.
Jawaban Detil
Definisi Ujian Ilahi
Apa yang disebut dalam bahasa kita sebagai “ujian” atau “cobaan” disebutkan dalam ragam redaksi dalam al-Qur’an misalnya, “ibtilâ”, “fitnah”, “tamhish.” Allah Swt dalam al-Qur’an berfirman: Aku mencipta manusia supaya Aku menguji di antara mereka siapa yang paling baik amalnya. “Yang menciptakan mati dan hidup supaya Dia mengujimu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (Qs. Al-Mulk [67]:2)
Yang dimaksud dengan ujian dan cobaan yang digeral Tuhan tentu berbeda dengan pelbagai ujian yang diselenggarakan manusia.
Ujian-ujian yang diselenggarakan manusia adalah untuk mengenal lebih baik dan menghilangkan keburaman dan ketidaktahuan. Namun ujian Ilahi sejatinya adalah untuk penempaan dan tarbiyah manusia.[1] Artinya ujian dan cobaan Ilahi adalah ruang-ruang untuk mentarbiyah, menempa dan menyempurnakan manusia sebagaimana para nabi Ilahi seperti Nabi Ibrahim yang ditempa dengan pelbagai ujian kesulitan dan kepelikan hidup kemudian menggondol makam-makam tertinggi.[2]

Obyek-obyek Ujian Ilahi dalam al-Qur’an
Ujian dan cobaan Ilahi untuk manusia merupakan salah satu sunnahtullah.
Al-Qur’an menyatakan, “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan, “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (Qs. Al-Ankabut [29]:2-3) Terkadang al-Qur’an menyebutkan satu ujian umum yang digelar untuk seluruh hamba Tuhan dengan ungkapan, “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan, “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?” (Qs. Al-Ankabut [29]:2)
Terkadang al-Qur’an menyingkap satu jenis ujian khusus yang ditujukan untuk orang-orang dan kaum tertentu. Masalah ini yang membentuk satu jenis episode dan kisah-kisah al-Qur’an, misalnya kisah-kisah para nabi dan kaumnya.
Ayat-ayat yang berkisah tentang ujian-ujian umum lebih banyak dari apa yang dapat dikemukakan di sini. Di sini kami hanya akan menyinggung beberapa hal terkait dengan cobaan dan ujian-ujian Ilahi yang disebutkan dalam al-Qur’an:
1.     Pelbagai Kesulitan dan Kepelikan
Allah Swt menguji manusia dengan perantara pelbagai kesulitan dan kepelikan. Allah Swt berfirman, “Dan sungguh Kami akan berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (Qs. Al-Baqarah [2]:155)
Pelbagai kesulitan adalah tungku pembakaran yang memberikan kekuatan dan ketahanan pada besi. Demikian juga manusia dalam tempaan tungku pembakaran pelbagai kesulitan dan kepelikan akan menjadi kokoh dan kuat serta mampu untuk merobohkan pelbagai rintangan yang menghalang di hadapannya dalam upayanya meniti jalan menuju kebahagiaan.
Bencana memiliki efek edukatif dan pembinaan individu dan pembangun masyarakat. Kesulitan hidup akan membangunkan dan mengingatkan manusia yang terlelap. Kesulitan hidup adalah penggerak tekad dan kehendak manusia. Kesulitan-kesulitan hidup adalah laksana pemberi polesan terhadap besi dan baja yang semakin dekat dengan magnet akan membuat orang semakin bulat tekadnya, lebih aktif dan lebih giat. Karena tipologi hidup adalah supaya manusia bertahan di hadapan pelbagai kesulitan dan bersiaga menghadapinya. Kesulitan laksana senyawa kimia yang memiliki tipologi untuk membangkitkan kuiditas dan merubah jiwa dan kepribadian manusia.[3]

2.     Keburukan dan Kebaikan
Sebagaimana al-Qur’an menyatakan, “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan mengujimu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kami-lah kamu dikembalikan.” (Qs. Al-Anbiya [21]:35) Dengan demikian bahkan kebaikan sekali pun juga dapat menjadi sebuah faktor ujian bagi manusia. Misalnya seseorang yang mampu memperoleh kekayaan, harta atau tanggun jawab yang menyebabkan dirinya dihormati dan disanjung namun ia tidak dapat memanfaatkannya dengan baik sehingga mudah menjadi obyek tipu daya setan.

3.     Melimpahnya Karunia
Ujian-ujian Ilahi tidak selamanya dalam bentuk pelbagai peristiwa pelik dan susah melainkan terkadang Tuhan menguji para hamba-Nya dengan karunia yang banyak dan melimpah[4] sebagaimana al-Qur’an menarasikan kisah Nabi Sulaiman, “Tetapi) seseorang yang mempunyai sebuah ilmu dari kitab (samawi) berkata, “Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip.” Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, ia pun berkata, “Ini termasuk karunia Tuhan-ku untuk mencobaku apakah aku bersyukur atau mengingkari (nikmat-Nya). Dan barang siapa yang bersyukur, maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barang siapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhan-ku Maha Kaya lagi Maha Mulia.”” (Qs. Al-Naml [27]:40)
Kelompok lainnya yang karam dalam samudera anugerah dan segala fasilitas berada dalam jangkaunnya. Ujian mereka adalah apakah dalam kondisi seperti ini untuk menunaikan tugas yaitu bersyukur atas anugerah yang diberikan ini dan menolong orang-orang susah atau tenggelam dalam kelalaian, angkuh, congkak, mementingkan diri sendiri.

4.     Anak-anak
Al-Qur’an menyebutkan, “Dan ketahuilah bahwa harta dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (Qs. Al-Anfal [8]:28)

5.     Iman dan Kafir
Al-Qur’an mengingatkan tentang penjaga neraka dan menyebut jumlah mereka sebanyak sembilan belas malaikat kemudian mengimbuhkan, “Kami tidak menjadikan penjaga neraka itu melainkan dari malaikat dan tidaklah Kami menjadikan bilangan mereka itu melainkan sebagai cobaan bagi orang-orang kafir supaya ahli kitab (Yahudi dan Kristen) menjadi yakin, supaya iman orang yang beriman bertambah, supaya ahli kitab dan orang-orang mukmin itu tidak ragu-ragu, dan supaya orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan orang-orang kafir berkata, “Apakah yang dikehendaki Allah dengan menjelaskan sifat-sifat neraka Saqar itu?” Demikianlah Allah menyesatkan orang-orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan tidak ada yang mengetahui bala tentara Tuhan-mu melainkan Dia sendiri. Dan Saqar itu tidak lain hanyalah peringatan bagi manusia.” (Qs. Al-Mudattsir [74]:31)

6.     Ornamen dan Hiasan di Muka Bumi
Pada sebuah ayat al-Qur’an disebutkan tentang apa yang terdapat di bumi dipandang sebagai sebuah ujian. “Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya.” (Qs. Al-Kahf [18]:7) [IQuest]


[1]. Nasir Makarim Syirazi, Tafsir Nemune, jil. 1, hal. 527, Dar al-Kutub al-Islamiyah, Cetakan Keduapuluh Satu, 1365 S.  
[2]. “Dan (ingatlah) ketika Ibrahim diuji oleh Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu ia menunaikannya (dengan baik). Allah berfirman, “Sesungguhnya Aku menjadikanmu imam bagi seluruh manusia.” Ibrahim berkata, “Dan dari keturunanku (juga)?” Allah berfirman, “Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang-orang yang zalim.” (Qs. Al-Baqarah [2]:124)  
[3]. Diadaptasi dari Pertanyaan No. 2056 (Site: 2418) 
[4]. Tafsir Nemune, jil. 1, hal. 533.  

Selasa, 09 April 2013

Khalifah Utsman bin Affan Korban Fitnah



Khalifah Utsman bin Affan Korban Fitnah


Beliau adalah Abu Abdillah Utsman bin Affan bin al-Ash bin Umayyah bin Abdi Syams bin Abdi Manaf. Nasab beliau bertemu dengan nasab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada kakek keempat yaitu Abdu Manaf, di masa jahiliah beliau dipanggil Abu Amr namun tatkala dari istri beliau yaitu Ruqayyah binti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terlahir seorang laki-laki yang diberi nama Abdullah lalu beliau berganti menjadi Abu Abdillah, dan beliau masyhur dengan julukan dzu nurain (pemilik dua cahaya).

Di masa jahiliyah Utsman bin Affan adalah seorang yang terpandang dan dimuliakan oleh kaumnya. Beliau dikenal sebagai seorang yang sangat pemalu, hartawan, dan pemilik petuah yang didengar. Karena itulah ia sangat dicintai dan dimuliakan oleh kaumnya. Ia tidak pernah sujud kepada sebuah patung pun, tidak pula berbuat keji, tidak pernah meminum khamar baik sebelum maupun setelah Islam. Utsman bercerita, “Aku tidak pernah bernyanyi, tidak pula panjang angan-angan, aku pun tidak pernah menyentuh dzakarku dengan tangan kananku setelah aku gunakan tangan itu untuk membai’at Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, aku tidak pernah minum khamar di masa jahiliah maupun setelah Islam.”
Keutamaan Utsman bin Affan
Beliau termasuk as-sabiqun al-awwalun (orang-orang yang pertama menyambut dakwah Islam). Beliau mengikrarkan diri sebagai seorang muslim berkat dakwah Abu Bakr Ash-Shidddiq pada umur 34 tahun. Di saat kaumnya menolak dan mengingkari seruan dakwah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ia justru membentangkan tangan, membuka hati, dan meyakini tanpa keraguan. Tatkala seruan hijrah dikumandangkan beliau adalah termasuk seorang yang tampil melaksanakan perintah sehingga beliau dua kali berhijrah, ke negeri Habasyah dan Madinah.
Keunggulan sahabat Utsman semakin tampak pada beberapa keadaan penting di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang saat itulah figur Utsman dikenal sebagai salah satu sahabat yang tidak disebut melainkan kebaikan. Di saat musim paceklik panjang, kemiskinan dan kefakiran menjadi bagian bagi setiap kaum muslimin. Di saat itu pula Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyerukan seruan jihad dan beliau tengah menyiapkan pasukan besar untuk diberangkatkan dalam Perang Tabuk melawan pasukan Romawi. Pasukan itu disebut jaisyul ‘usroh karena sulitnya kondisi materi para sahabat pada saat itu. Namun, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap mendorong para sahabatnya untuk berinfak dan bersedekah dalam rangka menyiapkan pasukan besar tersebut. Hingga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan,
Barang siapa yang menyiapkan jaisyul usyroh, maka baginya surga.”
Tiba-tiba datanglah seorang saudagar kaya yang dermawan dialah Utsman bin Affan membawa kepingan-kepingan dinar berjumlah 1000 dinar lalu diberikan di hadapan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam. Sambil memeganginya keluarlah ucapan yang masyhur dari bibir Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia,
“Tidaklah memudharatkan Utsman apa yang ia lakukan setelah ini.”
Dan juga pada saat jumlah kaum muslimin semakin bertambah dan Masjid Nabawi serasa tidak dapat lagi menampung jamaah, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
Barang siapa membeli lokasi milik keluarga fulan lalu menambahkan untuk perluasan masjid dengan kebaikan maka ia kelak di surga.” Lalu Utsman membelinya dari kantong uang miliknya lalu tanah itu diwakafkan untuk masjid.
Demikian juga tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hijrah ke Madinah maka tidak dijumpai air tawar kecuali dari sumur rumah. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
Barang siapa membeli sumur dan menjadikan gayung miliknya bersama dengan gayung milik kaum muslimin maka kelak ia di surga.” Mendengar ucapan tersebut Utsman pun segera membelinya.
Kemudian satu hal yang tidak boleh dilupakan – yang menambah kemuliaan sahabat Utsman, beliau adalah seorang mu’alim yang cinta kepada Alquran. Kecintaannya terhadap Alquran telah membuahkan hasil yang senantiasa dikenang hingga hari kiamat, peristiwa pengumpulan Alquran dan penyeragaman bacaan adalah bukti nyata bagi seorang yang mau merenunginya. Beliaulah sahabat yang telah meriwayatkan sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam,
Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Alquran dan mengajarkannya.”
Dan suatu hari Utsman memanggil orang-orang, lalu berwudhu di hadapan mereka, kemudian beliau mengatakan, “Barang siapa yang berwudhu semisal wudhuku ini lalu shalat dua rakaat dan tidak berbincang-bincang di dalamnya, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”
Beliau juga sering memperingatkan manusia dari bahaya dusta atas nama agama, dari beliaulah diriwayatkan sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, “Barang siapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja maka silakan mengambil tempat duduk di neraka.
Dan masih banyak lagi keutamaan-keutamaan beliau yang lain, namun tidak ada yang lebih menggembirakan dari itu semua dibandingkan persaksian Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bahwa Utsman adalah min ahlil jannah (salah satu penghuni surga).
Dari Abu Musa al-Asy’ari beliau berkata, “Suatu hari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk ke sebuah kebun dan beliau memerintahku untuk menjaga pintu kebun tersebut, maka datanglah seorang laki-laki meminta izin untuk masuk maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, ‘Izinkanlah ia masuk dan berikan kabar gembira kepadanya berupa surga.’ Ternyata ia adalah Abu Bakr. Lalu datang seorang laki-laki yang lain dan meinta izin untuk masuk, lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, ‘Izinkanlah ia masuk dan berikan kabar gembira kepadanya berupa surga.’ Ternyata dia adalah Umar. Kemudian datang lagi seorang yang lain meminta izin untuk masuk, namun sejenak Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terdiam, lalu beliau mengatakan, ‘Izinkanlah ia masuk dan berikan kabar gembira kepadanya berupa surga atas bala yang akan menimpanya.’ Ternyata dia adalah Utsman bin Affan.”
Ishaq bin Rahawaih mengatakan, “Tidak ada seorang pun sepeninggal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam orang yang paling baik di muka bumi ini kecuali Abu Bakr, dan tidak ada orang yang lebih baik sepeninggalnya kecuali Umar, dan tidak ada orang yang lebih baik sepeninggalnya kecuali Utsman, serta tidak ada orang yang lebih baik dan lebih mulia sepeninggalnya kecuali Ali.”
Gelombang Fitnah yang bertubi-tubi
Merupakan mukjizat kenabian, apa yang disabdakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pasti terjadi. Abu Hurairah telah meriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
Sesungguhnya kalian akan menjumpai setelahku fitnah dan perselisihan atau perselisihan dan fitnah.” Maka berkata salah seorang, “Lalu kepada siapa kami akan memihak?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Berpegangteguhlah kalian kepada al-Amiin ini dan sahabat-sahabatnya.” Lalu beliau mengisyaratkan kepada Utsman.”
Maka atas apa yang telah dikabarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Utsman pun mengetahui bahwa kelak ia akan dibunuh secara zalim, dan orang-orang yang keluar darinya akan menghalalkan darahnya adalah orang-orang munafik. Apa yang disabdakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam benar-benar terjadi, setelah beliau diangkat menjadi Khalifah kaum muslimin yang sah, beliau banyak menuai protes, banyak menerima kritikan dan tuduhan dari para pemberontak. Api itu makin menghalalkan darah Utsman. Di antara tuduhan-tuduhan keji mereka:
Pertama: mereka menuduh Utsman tidak berlaku adil dalam pengangkatan para pejabatnya karena ia mengutamakan keluarganya dan mencopot jabatan sebagian sahabat kibar (senior), serta menggantinya dengan orang-orang yang lebih muda umurnya.
Jawaban atas tuduhan tersebut:
Adapun penggantian jabatan dari sahabat senior kepada para pemuda, maka sungguh bagi beliau terdapat panutan yang baik sebelumnya. Bukankah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah menyiapkan pasukan besar untuk memerangi Romawi lalu beliau menunjuk panglimanya adalah Usamah bin Zaid yang tatkala itu masih berusia belia, sedang di belakangnya banyak para sahabat senior seperti Abu Bakr dan Umar…?? dan sebelum pasukan besar tersebut diberangkatkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terlebih dahulu meninggal dunia. Apa reaksi manusia tatkala itu, mereka datang kepada Umar untuk membujuk Abu bakar, agar ia mencopot jabatan Usamah bin Zaid sebagai panglima, maka sahabat Abu Bakr marah besar dan mengatakan kepada Umar, “Wahai Umar, ia adalah orang yang telah diangkat langsung oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, lalu engkau memintaku untuk mencopotnya?!!”
Al-Imad Ibnu Katsir mengatakan, “Utsman adalah seorang yang berakhlak mulia, sangat pemalu, dan dermawan. Beliau sering mendahulukan keluarga dan kerabat-kerabatnya karena Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam rangka untuk ta’liful qulub (melunakkan hati), untuk suatu tujuan yang kekal melalui perkara-perkara dunia yang fana sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga telah memberi suatu kaum dan tidak memberikan kepada kaum yang lain untuk suatu tujuan agar mereka mendapat hidayah dan iman, dan sungguh untuk tujuan ini suatu kaum memahaminya, tidak sebagaimana kaum Khawarij telah melakukan protes atas apa yang diperbuat oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam.”
Kedua: beliau dituduh telah membuat perkara baru yang tidak ada contoh sebelumnya seperti pengumpulan ayat-ayat Alquran dalam sebuah mushaf, beliau tidak meng-qashar shalat tatkala di Mina, dan beliau menambahkan adzan menjadi dua kali pada hari Jumat.
Jawaban atas tuduhan tersebut:
Adapun beliau membakar seluruh mushaf dan menjadikan satu mushaf saja yang disepakati maka justru para ulama memandang hal itu adalah perbuatan mulia yang menjadikan kemuliaan bagi sahabat Utsman, karena berarti beliau telah memupus benih-benih perpecahan di tubuh kaum muslimin perihal bacaan kitab suci mereka. Lihatlah apa tindakan Abu Hurairah setelah Utsman melakukan apa yang beliau lakukan terhadap Alquran lalu sahabat Abu Hurairah menemuinya seraya mengatakan, “Sungguh engkau telah benar dan mencocoki kebenaran.”
Adapun tatkala di Mina beliau shalat sempurna dan tidak meng-qashar, maka beliau menjawab sendiri tuduhan tersebut, “Ketahuilah, yang demikian adalah karena aku mendatangi suatu negeri yang di dalamnya terdapat keluargaku, sehingga aku menyempurnakannya karena dua asalan bermukin dan menjenguk keluarga.”
Dan Al-Hafizh telah menukil dari Al-Iman az-Zuhri beliau mengatakan, “Utsman shalat sempurna di Mina empat rakaat karena orang badui (Arab pegunungan) di tahun itu sangatlah banyak, maka Utsman hendak mengajari mereka bahwa shalat (zhuhur dan Ashar) adalah empat rakaat.”
Adapun tentang beliau menambahkan adzan sebelum Jumat karena beliau memandang terdapat maslahat yang menuntut akan hal tersebur, karena kota Madinah semakin luas dan orang-orang semakin banyak sehingga adzan tersebut adalah tanda bahwa shalat Jumat akan segera ditegakkan.
Al-Imam al-Bukhari meriwayatkan dari Saib bin Yazid bahwa Utsman menambahkan adzan kedua pada masanya karena tatkala itu manusia yang tinggal di Madinah sudah sangatlah banyak.
Dan seandainya perbuatan itu munkar maka pasti akan diingkari oleh para sahabat senior yang tatkala itu masih hidup. Kalau demikian keadaannya, maka hal itu merupakan salah satu sunah khulafaur rasyidin dan sunah mereka adalah termasuk sunah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang kita diperintah untuk berpegang teguh dengannya.
Ketiga: Beliau dicela karena beberapa tindakan di antaranya karena beliau telah absen dalam Perang Badar, dan ketika Perang Uhud beliau termasuk orang-orang yang ikut lari ke belakang dan beliau tidak ikut dalam Bai’at Ridhwan.
Sahabat Abdullah bin Umar telah menjawab tuduhan-tuduhan tersebut sebagaimana yang telah diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhari:
Seorang laki-laki datang dari Mesir untuk berhaji, lalu ia melihat suatu kaum tengah duduk-duduk. Ia bertanya, “Siapa mereka?” Lalu dijawab, “Mereka adalah orang-orang Quraisy.” Ia berkata, “Siapa syaikh mereka?” Mereka menjawab, “Abdullah bin Umar.” Lalu ia bertanya, “Wahai Abdullah bin Umar, aku akan menanyakan beberapa hal kepadamu. Apakah engkau tahu bahwa Utsman telah lari dalam Perang Uhud?” Beliau menjawab, “Benar.” Ia melanjutkan, “Apakah engkau tahu bahwa ia juga telah absen dari Perang Badar?” Beliau menjawab, “Benar.” Ia bertanya lagi, “Apakah engkau tahu bahwa ia juga telah absen dalam Bai’at Ridhwan?” Beliau menjawab, “Benar.” Lalu laki-laki itu mengatakan, “Allahu Akbar!!”
Ibnu Umar mengatakan, “Kemarilah, aku akan jelaskan kepadamu. Adapun Utsman telah lari dalam Perang Uhud maka aku bersaksi bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memaafkannya, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
إِنَّ الَّذِينَ تَوَلَّوْا مِنكُمْ يَوْمَ الْتَقَى الْجَمْعَانِ إِنَّمَا اسْتَزَلَّهُمُ الشَّيْطَانُ بِبَعْضِ مَاكَسَبُوا وَلَقَدْ عَفَا اللهُ عَنْهُمْ إِنَّ اللهَ غَفُورٌ حَلِيمٌ
Sesungguhnya orang-orang yang berpaling di antaramu pada hari bertemu dua pasukan itu, hanya saja mereka digelincirkan oleh setan, disebabkan sebagian kesalahan yang telah mereka perbuat (di masa lampau) dan sesungguhnya Allah telah memberi maaf kepada mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun.”(Q.S. Ali-Imran: 155)
Adapun beliau absen dalam Perang Badar karena tatkala istri beliau yaitu putri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang sakit keras, sehingga ia diizinkan untuk tidak hadir dalam peperangan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan kepadanya, “Sesungguhnya bagimu seperti pahalanya orang yang ikut menyaksikan Perang Badar.” Dan mengenai absennya beliau dalam Bai’at Ridhwan karena seandainya ada orang yang lebih mulia dari Utsman di Mekah maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam akan mengutusnya ke Mekah, maka tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutusnya, beliau mengatakan ini adalah bai’atnya Utsman.” Setelah itu Ibnu Umar mengatakan kepada laki-laki tersebut, “Sekarang pergilah engkau.”
Wafatnya Utsman bin Affan Khalifah
Tatkala syubhat-syubhat – yang hakikatnya lemah tersebut – tidak dapat terbendung maka api kebencian telah menyulut pada hati-hati para pemberontak. Akhirnya, mereka datang ke Madinah dan mengepung rumah Utsman. Mereka meminta agar Utsman meninggalkan kekhalifahannya atau mereka akan membunuhnya.
Namun, Ibnu Umar segera masuk menemui Utsman dan mendorongnya agar ia jangan sampai menanggalkan kekhalifahannya karena berarti itu telah membuat sunah yang jelek, sehingga setiap kali manusia tidak menyenangi pemimpinnya, maka mereka akan mencopot paksa kepemimpinan tersebut. Utsman pun menyadari bahwa inilah fitnah yang sejak jauh-jauh hari telah diberitakan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam. Karena itu, Utsman hanya bisa bersabar dan menyerahkan urusannya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Akhirnya, orang-orang Khawarij tersebut memanjat rumah Utsman, lalu pedang-pedang mereka mengalirkan darah Utsman yang suci sedang beliau tengah berpuasa dan membaca kitabullah, hingga tetesan darah pertama tatkala membaca,
فَسَيَكْفِيكَهُمُ اللهُ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
Maka Allah akan memelihara kamu dari mereka. Dan Dialah yang Maha mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Q.S. Al-Baqarah: 137)
Di malam hari sebelum Utsman meninggal dunia, ia bermimpi bertemu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau mengatakan, “Wahai Utsman, berbukalah bersama kami.” Dan tatkala shubuh ia berpuasa dan meninggal dunia di hari itu juga.
Mutiara Teladan
Beberapa pelajaran berharga di antaranya:
  1. Aksi demonstrasi dan protes adalah buah teladan dari kaum Khawarij, dengan berpijak pada syubhat-syubhat yang lemah mereka menghalalkan yang haram. Pada hakikatnya mereka adalah orang-orang yang senang membuat kerusakan di muka bumi.
  2. Merupakan kewajiban seorang mukmin tatkala menerima berita hendaklah untuk tasabbut (mencari kebenaran berita) terlebih dahulu, jangan langsung asal percaya. Terlebih lagi kalau berita itu datang dari orang-orang fasik yang tidak menjaga muru’ah. Alquran mengajari kita berhati-hati dalam menerima berita-berita yang belum jelas sumbernya apalagi yang menyangkut kehormatan kaum muslimin.
  3. Figur Utsman adalah teladan bagi kita dalam membelanjakan harta yang telah diberikan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka hendaknya para saudagar kaya, para konglomerat, sadar bahwa harta akan bermanfaat baginya bila digunakan untuk menunjang kehidupan akhirat yang kekal.
Sumber: Majalah Al-Furqon, Edisi 08 Tahun ke-10 Muharram 1431 H/2010

Jumat, 22 Maret 2013

MENGALAH UNTUK MENANG (senandung di kampung derita)



MENGALAH UNTUK MENANG (Senandung dilembah Gunung Kulabu di kampung Halaman Tercinta)

Perjalanan hidup ketika saya pulang kampong di bulan Februari  2013 yang cukup lumayan melelahkan bagi penulis akan tetapi itu semua sirna ketika penulis sudah sampai di kampung tercinta di bawah lembah Gunung Kulabu, disaat ketika ber jumpa kembali dengan Mak, Ayah Bunda tercinta juga dengan adik-adik saya yang sangat aku sayangi terutama si bungsu yang masih kecil sudah berani kos di asrama, keluar daerah tepatnya di Kota Nopan dengan berat hati orang tua yang harus berpisah dengannya. Sekarang tanpa terasa bagi penulis dia sudah kelas Dua  Tsanawiyah, dan dia juga selalu dapat juara di kelasnya, saya merasa bangga punya adaik- yang rajin dan pintar.  semester 3 yang lalu dia sms abang yang lagi di Jakarta melanjutkan studi S2, bahwa dia mendapat juara 1 di kelasnya. Adik yang ke-2 sudah semester 4 di IAIN SU Medan, ia mendapat nilai tertinggi dikelasnya dengan IPK 3,91. Alhamdulillah ya Allah saya diberikan adik-adik yang dapat membanggakan keluarganya terutama orangtuanya. Mereka ini yang sudah lama rasanya  penulis tinggalkan, mulai semenjak lebaran kemarin karena merantau melanjutkan studi ke graduate school University Islam Syarif  Hidayatullah Jakarta.
Waktu itu penulis di kampung halaman menjumpai suatu peristiwa yang aneh tapi nyata menurut pikiran penulis. Ketika itu diwaktu pagi menjelangsiang hari, saya mak dan adik sedang menjemur padi untuk di giling supaya dijadikan beras.Ketika sudah selesai si tukang masin nyamarah-marah takkaruan ntah karena ..! rupanya karena padinya tidak dikasi digiling di mesin padi miliknya. Kejadian itu yang sempat mengakibatkan peragmulut dengan mak. Dia marah dan padinya diserakin dijalanan. Penulis Istigfar saja lantas akhirnya penulis mengatakan kepada sipenggiling padikenapa kami tidak mengasi padi kepadanya, karena kerjanya tidak bagus kurang teliti mengerjakan penggilingan padi akhirnya hasil dari gilingan trsebut tidak bagus dan memuaskan.
            Setelah penulis jelaskan persoalannya  baru dia diam dan pergi nyelonong denagan motornya.Ternyata menurut kebiasaan sebelumnya memang sudah sifatnya yang seperti itu. Dari peristiwa itu kalau kita mudah terpancing dan dibawa emosi akan berakibat permasalahan yang akan semakin panjang yang bisa berujung kepada permusuhan.  Penulis akhirnya mengatakan kepada mak kita sabar maklum saja jangan diambil hati karena memang sudah sifat tabiatnya yang seperti itu.
Seperti inilah kisah nyata yang dijumpai dalam lingkungan sosial, terkadang yang tidak kita inginkan dating ditengah tengah kehidupan kita.Karena memangitulah dinamika kehidupan yang kita tidak mungkin lari dari segla bentuk yang harus kita hadapi dari corak macam ragam sikap orang dalam kehidupan tersebut. Ini merupakam suatu pengalaman hidup. Penulis merenung sejenak sambil berpikir ternyata hidup ini tidak semudah yang kita bayangkan dan kitaharapkan.
Sebagaimana kata orang bijak …!
“Rambut memang boleh, sama-sama hitam akan tetapi sikap, tabiat, perangai setiap orang pasti
berbeda-beda.”

Wahai saudaraku sekalian yang kucintai karena Allah…!
Apakah anda pernah melihat anak nelayan memancing kepiting?
Mereka mengikatkan tali dalam potongan dari sebatang bambu.Ujungnya diikatkan dikasi batu kecil. Lalu bambu itu diayun kearah kepiting yang diincar, dan disentak-sentakkan agar kepiting itu marah. Begitu sikepiting marah, ia akan mencengkeram batu kecil itu dengan kuat dan terjerat lah ia si kepiting karena kemarahannya!
Karena adanya akibat yang serupa dengan gambaran di atas, itulah sebabnya amarah kita tidak boleh mudah terpancing melihat orang jahat. Alasannya, itu hanya akan membawa kita kepada kejahatan. Dalam Al Quran banyak disinggung oleh Allah melalui firmanNy agar jangan marah kepada orang yang berbuat jahat. Juga dipertegas oleh Nabi kita Muhammad SAW supaya kitajanganmudah terpancing amarah alias emosi.
Ketika Nabi sedang bermuzakaroh dengan sahabatNya …!
Tiba-tiba ada yang datang seorang dari kalangan suku lain yang bertanya kepada beliau..!
Ia kemudian bertanya kepada Rasul perihal kebaikan apa yang harus sayalakukan wahai Rasul ?
Jangan marah, jangan marah, jangan marah, Rasul mengatakan dengan mengulang sampai tiga kali, itu mengisyaratkan supaya kit ajangan mudah terpancing emosi.
Emosi tinggi bisa membua tkita berbuat sesuatu yang berakibat buruk. Misalnya: karena ingin melampiaskan kemarahan, kita justru menyakiti orang lain baik fisik atau melukai perasaan orang. Bahkan sekalipun kemarahan itu beralasan! Kita bisa menjadi marah atau irihati terhadap orang  jahat, yang bebas berbuat jahat, tetapi seolah-olah hidup mereka tetap aman dan terlindungi dari murka Allah.
Dengan beranggapan seakan-akan Allah itu tidak berlaku adil. Sepertinya Dia membiarkan saja jika orang benar lebih kerap bermasalah dibanding orang jahat.
Benarkah?
Mengalah bukan berartikalah. Mengalah disini untuk “Menang” untuk tidak jatuh dalam perbuatan dosa.
Saudaraku seiman dan seaqidah sekalian yang dirahmati Allah SWT….!
Jika kita harus menyaksikan kefasikan merajalela dan kita tidak bisa berbuat apa-apa, kita harus meneguhkan hati untuk tidak marah. Ya, marah kepada orang fasik hanya membuat kita masuk kedalam pancingan mereka. Dan kemarahan yang tak terkendali justru akan menjerat pelakunya kedalam lumbsh kenidtssn yskni dosa. Ingat saja penjelasan Al Quran. Orang fasik tak kan bertahan lama dalam keberdosaan, kejahatan mereka akan terbongkar juga. Tuhan selalu adil. Dia tidak menutup mata atas kefasikan yang mereka kerjakan.
KEBERUNTUNGAN  ORANG  FASIK  HANYA SEMENTARA KEBERUNTUNGAN ORANG BENAR SUNGGUH TAK TERKIRA Di DUNIA DAN DIAKHIRAT KELAK.