Minggu, 02 Oktober 2016

PERJALANAN HIDUP CANDRA KRISN JAYA LUBIS AL-MANDILI

KISAH PERJALANAN JIHAD MENUNTUT ILMU
Penulis adalah merupakan anak sulung dari tiga bersaudara dari pasangan ayahanda Arba syukri lubis dengan Ibunda Derhana,  anak yang kedua yang bernama Fitria Afril Yana dan yang paling bontot bernama Umii Kalsum. Sebelum penulis mengenyam pendidikan di bangku sekolah dasar penulis diasuh oleh nenek dari ayah, sedangkan Ayah dan umak sehari harinya kesawah dan keladang mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga kecil kami.
Setelah penulis berusia lebih kurang lima tahun enam bulan penulis dimasukan ke SD  Pakantan, Mandailing natal atas dasar permintaan dari nenek yang sudah tidak sanggup lagi untuk mengontrol tempat penulis bermain jauh dari jangkauan nenek, terkadang kesawah, kehutan, karena diajak oleh teman-teman sebaya. Selama penulis dibangku Sekolah Dasar, mulai dari tahun 1945-2001 alhamdulillah dapat selesai dengan lancar.
Setelah lulus  SD kemudian penulis melanjutkan pendidikan ketingkat sekolah lanjutan tingkat pertama yaitu di SMP Negeri 2 Muarasipongi. Selama penulis sekolah di SMP harus berangkat pegi2 buta karena jarak dari rumah kesolah cukup lumayan jauh, menghabiskan waktu lebih kurang 30-40 menit. Sepulang sekolah penulis diminta orangtua supaya datang lagi kesawah untuk membantu ayah dan umak yang lagi sibuk terlebih lebih disaat musim menanam padi  dan disaat panen. Kalaupun selain waktu itu penulis tidak ikut membantu kesawah atau keladang, penulis mempunyai kewajiban untuk membersihkan rumah, seperti nyapu ngepel dan memasak nasi dengan menggunakan bahan bakar kayu yang  sedikit berbeda dengan kondisi kampung halaman penulis sekarang.
Setelah penulis lulus dari sekolah lanjutan penulis mengalami kebingungan yang luar biasa disamping saya merasa sedih ketika pengumuman ujian akhir sudah keluar, karena setiap ditanya oleh guru sekolah maupun antar sesama teman-teman sekelas, dengan ungkapan seperti ini, Candra kemana akan melanjutkan sekolahnya?, penulis hanya bisa diam seribu bahasa. Kenapa penulis tidak menjawab, karena ayah sudah mengatakan kepada penulis bahwa kalau beliau tidak mampulagi untuk menyekolahkan saya kejenjang yang lebih tinggi (SLTA), dengan ucapan yang masih terngiang-ngiang di telinga penulis, dengan ungkapan: “nak ayah sudah tidak sanggup lagi melanjutkan sekolahmu nak”.
Tentunya sangat berbeda dengan teman-teman pada umumnya yang merasa riang gembira karena mereka bisa melanjutkan sekolah mana yang mereka inginkan, karena memang ekonomi orangtua mereka sangat berbeda dengan orangtua penulis. Diantara mereka ada yang melanjutkan kesekolah unggulan, kejuruan, pesantren dan sekolah lainnya.
Situasi dan kondisi yang seperti ini selalu ada harapan ketika penulis mendapatkan dorongan semangat dari Umak dengan mengatakan: “apapun yang akan terjadi apakah kita harus ngutang yang penting kamu harus tetap sekolah nak, insya Allah akan dipermudah Allah nak...”.
Setelah itu penulis berangkat bersama ayah kelur dari kampung mencari sekolah yang lebih murah di Kotanopan. Kotanopan merupakan salah satu kota kecamatan di Mandailing Natal. Jaraknya dari kampung halaman 40 km, lebih kurang 2 jam perjalanan dengan menggunakan angkutan umum. Penulis akhirnya didaftarkan di sekolah agama tingkat aliyah yang bernama Sekolah Perguruan Muhammadiyah Kotanopan. Karena jarak sekolah dengan rumah yang cukup jauh yang tidak memungkinkan kalau penulis pulang hari, akhirnya penulis mencari kos-kosan yang murah di sekitar sekolah,dalam hati saya sukur-sukur kalau ada yang gak bayar. Alhamdulillah dengan kuasa Allah penulis  dipertemukan dengan seorang nenek yang tinggal seorang diri di rumahnya.  Akhirnya penulis tinggal bersama nenek tersebut dengan syarat membantu beliau untuk menyiapkan dagangannya. Alhamdulillah inipun sudah sangat membantu, pikir penulis. Sehingga orang tua tidak harus susah payah membayar uang kos untuk penulis.
Beberapa bulan kemudian penulis menemukan tempat kost yang sebelummya juga sudah dihuni oleh beberapa anak-anak sekolahan. Setelah orangtua menanyakan kepada yang punya rumah, qoddarollohnya bahwa yang punya rumah satu desa dengan penulis,  Alhamdulillah penulis juga dikasi tinggal tanpa harus bayar setelah mengetahu bahwa penulis di sekolah agama.
 Tanpa terasa begitu cepat waktu berlalu hari berganti bulan, bulanpun berganti bahwa penulis sudah tiga tahun di Kotanopan. Ketika itu tahun 2007 alhamdulillah penulis sudah menammatkan sekolah tingkat lanjutan atas tersebut di sekolah Madrasah aliyah Muhammadiyah 6 Kotanopan. Hal yang sama kembali datang seperti ketika saya hendak mau melanjutkan pendidikan kejenjang SLTA. Sedangkan sekarang penulis ingin sekali melanjutkan studi ketingkat perguruan tinggi.
Seperti yang pernah dikatakan Umak kepada penulis ketika hendak masuk sekolah tingkat lanjutan, akhirnya orangtua memutuskan membawa penulis berangkat ke – Medan yang ditemani oleh ayah. Penulis akhirnya mendaftar di Institut Agama Islam Negeri yang bisa disebut dengan IAIN Sumatera Utara. Setelah daftar penulis cari tempat tinggal. Alhamdulillah lagi-lagi ada saja jalan keluar yang Allah kasi. Sebagaimana kebiasaan mahasisiwa IAIN untuk menghemat biaya mereka tinggal di Masjid, disamping yang pertama kita tidak bayar, yang ke – dua malah kita yang dibayar. Nasehat dari abang senior ketika masa taaruf di kampus, dengangan mengatakan: kalau bisa ngekost free kenapa tidak, kalau bisa kita yang dibayar, itu baru luar biasa.
Penulis memilih poin yang kedua sembari berusaha mencari Masjid yang bisa menopang untuk kuliah. Alhamdulillah qoddarollah  Allah mempertemukan dan mempermudah jalanya higga penulis di pertemukan dengan Masjid Taqwa Al-Huda di jalan Dene, Sukaramai Medan Sumatera Utara (Sumut). Disinilah awal mula penulis memulai kehidupan kampus sembari bermasyarakat yang terdapat di sekitar Masjid. Adapun kegiatan sambilan penulis selain kuliah adalah ngajar di Madrasaw Ibtidaiyah Muhammadiyah, privat anak-anak orangtua  dan berwirausaha kecil kecilan. Mulai dari usaha jualan Roti di Kampus, di warung, dan adajuga yang dijajakan sendiri ke warung-warung.  Begitulah aktivitas penulis sehari harinya mulai dari awal kuliah hingga sampai akhir kuliah.
Setelah 3,5 tahun merantau menjalankan pendidikan, penulis di didik dibesarkan di lingkungan masjid,  yang pada akhirnya alhamdulillah penulis di wisuda tanggal 24-5-2011.

Hijrah ke Ibu Kota Negara (Jakarta)
Seiring dengan berjalannya waktu yang begitu cepat, detik berganti dengan menit, menit berganti jam , jam berganti hari, hari berganti bulan dan bulan berganti tahun, penulis hijrah kejakarta. Penulis masuk program megister di Sekolah Pasca Sarjana UIN Syarif  Hidayatullah Jakarta. Pertama kali di ibukota penulis lama tiggal di sebuah masjid yang bernama Nurul Huda di Kampung sawah kecamatan Ciputat, Tangerang Selatan. Sebelumya penulis numpang ditempat sahabat saya bernama Daud Lintang di Ma’had UIN jakarta untuk sementara waktu sebelum pindah kemasjid.
Setelah itu penulis bergabung di yayasan Bait al-Hasan bulan september 2012, yang di perkenalkan oleh teman yang bernama Safii Pasaribu yang juga kelahiran Medan yang sedang menempuh kuliah kuliah S1 di UIN Jakarta. Tanpa terasa penulis sudah kurang lebih satu tahun bergabung di Yayasan Bait al-Hasan di Vila Dago Toll, Sarua Ciputat.  Setelah hampir satu bulan Ramadhan 1434 H penulis memohon kepada pimpinan Yayasan, supaya penulis bisa shalat Idul Fitri bersama keluarga dikampung karena jadwal pulkam (pulang kampung) penulis seharusnya setelah Idul Fitri.
Dengan berbagai pertimbangan akhirnya pimpinan Yayasan mengabulkan pemohonan penulis dengan memberi izin kepada penulis untuk pulkam sebelum lebaran Idul Fitri. Setelah itu beberapa hari kemudian datang telpon dari kampung dan lantas penulis sampaikan kepada orang tua bahwa penulis jadi berangkat sebelum lebaran untuk shalat Idul Fitri bersama saudara-saudara sanak family yang berada dikampung.
Penulis merasa bahagia sekali dalam hati …!
Karena akan jumpa dengan orang tua dan adik-adik ku tercinta yang selalu menunggu kedatangan kakaknya dari rantau orang. Dengan persiapan yang seadanya, karna tiket pulang pergi Alhamdulillah sudah dibiayai oleh Yayasan, Semoga Allah membelas kebaikan beliau Ayahanda dan Bunda kami tercinta. Betapa penulis teringat akan sabda Rasulullah Muhammad SAW yang bunyinya sebagai berikut.
نِعْمَ الْمَالُ الصَّالِحُ لِلْرَجُلِ الصَّالِحِ
“ Sebaik-baik harta yang baik berada di tangan orang yang sholih “ ( HR Ibnu Hibban ).
            Alangkah nikmatnya kehidupan bersama orang-arang yang shaleh. Pulkam mememang suatu hal yang dinanti-nantikan oleh  setiap insan karena, sesuatu yang menyenangkan apabila kita niat karena Allah untuk berbakti kepada kedua orangtua. Setiap orang yang mempunyai orangtua, Idul Fitri ini adalah saat yang dinanti-nanti khususnya masyarakat Indonesia yang sudah menjadi tradisi khususnya umat Islam. Menurut hemat penulis sebagian  masyarakat awam, mskipun  ia jauh dari sisi orangtuanya dengan serba keterbatasan yang ada, ia tetap berusaha untuk pulang walaupun ternyata untuk belik kembali ia harus mencari ongkos bahkan meminjam supaya biasa berangkat kembali merantau.

وَلا تُؤْتُوا السُّفَهَاءَ أَمْوَالَكُمُ الَّتِي جَعَلَ اللَّهُ لَكُمْ قِيَامًا

‘’Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya, harta (mereka yang ada dalam kekuasaanmu) yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan. Berilah mereka belanja dan pakaian (dari hasil harta itu) dan ucapkanlah kepada mereka kata-kata yang baik ’’.
(Qs. an-Nisa : 5).
Perasaan bahagia pulang kekampung halaman adalah suatu yang kecil ada suatu yang lebih besar yaitu dengan berpulang kenegri akhirat. Sebelum itu yang harus kita lewati yakni alam kubur, sebelum hari kiamat tiba dengan ditiupkanya terompet sangkakala oleh malaikat Israfil. Negri akhirat sesuatu rukun iman untuk diyakini setiap insan. Hamba yang sudah mempersiapkan bekalnya untuk Pulkam kenegri akhirat, yang setiap  hamba pasti akan melaluinya ia akan merasa bahagia yang luar biasa apabila ia dijemput oleh malaikatul maut dalam keadaan perbekalan amal masing-masing. Oleh  karena inilah yang akan dapat menolong setiap pribadi hamba,  dimana pada suatu hari tidak akan berguna harta dan anak kesayangan melainkan hati yang selamat datang menuju Robbnya.
Setelah penulis menyelesaikan program Magister tgl 07 Februari 2014 penulis mengabdi di pesantren Annaba’ Center, Pondok pembinaan khusus muallaf. Disamping itu penulis juga ngajar di SMK X 2 Kartika Kodam Pasanggrahan Jakarta. Setelah menjalanai kehidupan yang sehari-hari seperti itu penulis merasa kesepian dan timbul rasa ingin punya teman pasangan hidup. Alhamdulillah penulis menikah dengan salah seorang teman sekolah di kampung halaman dulu yang bernama Nur Jamilah.
Penulis menikah tgl 20 Maret 2016, alhamdulillah status sy sudah menjadi kepala keluarga. Penulis tinggal bersama Istri di Parung. Penulis diamanahkan mengajar di Staini Parung. Sembari mengajar juga aktif di masyarakat dalam berdakwah. Setelah saya menikah silaturahim saya masih terus dengan yayasan Bait alhasan. Setelah menikah banyak sekali barokahnya salah satunya saya ditawarkan oleh Ayah Bunda Pimpinan Yayasan Bait al-Hasan untuk melanjutkan studi Doktoral. Alhamdulillah suatu kemudahan yang Allah berikan untuk menggapai cita-citaku dan juga cita-cita orangtuaku melalui ayah Hasnil Hasan Basri dan Bunda Lies Hendriati. Semoha Allah selalu memberikan kesehatan dan umur yang berkah kepada beliau dan keluarga yang telah banyak mengajari penulis tentang tanggung jawab dan arti  kehidupan.
Kesempatan ini saya  gunakan dengan sebaik baiknya. Semoga Allah SWT mempermudah dalam setiap langkahku. Terimakasih juga saya sampaikan kepada istriku tercinta Jamilah yang setia mendampingi perjuangan hidupku. Tanpa dukunganmu jua penulis tidak akan bisa seperti hari ini. Terimakasih juga buat semua saudaraku yang begitu baik terhadapku mau menegorku dikala salah serta meluruskan langkahku. Penulis selalu ingat pesan dari bunda, dengan ungkapan sembari memohon kepada Allah SWT Semoga kita menjadi orang yang sukses. Yaitu sukses di dunia dan sukses pula di akhirat.
Wassalam
Candra Krisna, J. Lbs


Senin, 01 Februari 2016

BISA MINTA TOLONG MAS, BELIKAN AKU PEMBALUT? KISAH ISNPIRATIF

BISA MINTA TOLONG MAS, BELIKAN AKU PEMBALUT? KISAH ISNPIRATIF

Cewek: “Bisa minta tolong, Mas?”
Cowok: “Tentu, apa sih yang tidak kulakukan untukmu…”
Cewek: “Tolong belikan pembalut sepuluh bungkus.”
Cowok: “Hah? Kalau itu gimana ya? Kenapa tidak Adik sendiri, Mas kan lelaki, malu kalau beli begituan.”
Cewek: “Kalau begitu minta tolong segera nikahi aku, Mas. Ini justru akan menunjukkan betapa gagahnya Mas sebagai lelaki…”
Cowok: ” Hah! Nikah? Kan butuh modal, Dik. Kita pacaran saja, sembari Mas mengumpulkan modal.”
Cewek: “Nikah itu modalnya cuma niat, mahar secukupnya, penghulu, wali, ijab kabul dan saksi. Apa ada yang memberatkan?”
Cowok: “Mahar kan butuh biaya, lagipula pernikahan kita mesti dipestakan biar tidak malu sama tetangga.”
Cewek: “Mahar itu semampu lelaki, Adik tidak minta yang banyak. Seperangkat alat shalat sudah lebih dari cukup. Kita juga tidak perlu merasa malu pada tetangga karena tidak bisa buat pesta, tetapi kita harusnya merasa malu kepada Allah karena telah sekian lamanya pacaran, padahal jelas hukumnya haram, karena ke mana-mana berdua, saling bersentuhan meski cuma jabat tangan, saling merayu lewat telepon bukankah ini semua zina?”
Cowok: “Terus nanti setelah nikah, kita makan apa?”
Cewek: “Karena kita tinggal di Indonesia, maka makanan pokoknya nasi. Apa mas belum tahu hal sederhana ini? Kalau masalah rezeki, Allah sudah menjamin. Buktinya selama ini Mas sanggup beli bensin, traktir makan, beli pulsa dan hadiah ulang tahun, lalu kenapa takut tidak sanggup memberi makan?”
Cowok: “Rumah kita bagaimana?”


Cewek: “Ngontrak tak masalah, daripada kita di rumahkan di neraka jahanam karena terlena bujukan syetan atas nama pacaran.”

NASEHAT BUAT SUAMI DAN ISTRI

NASEHAT BUAT SUAMI DAN ISTRI
“Assalaamu’alaikum…!” Ucapnya lirih saat memasuki rumah.

Tak ada orang yang menjawab salamnya. Ia tahu istri dan anak-anaknya pasti sudah tidur. Biar malaikat yang menjawab salamku,” begitu pikirnya.

Melewati ruang tamu yang temaram, dia menuju ruang kerjanya. Diletakkannya tas, ponsel dan kunci-kunci di meja kerja.

Setelah itu, barulah ia menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan berganti pakaian.

Sejauh ini, tidak ada satu orang pun anggota keluarga yang terbangun. Rupanya semua tertidur pulas.

Segera ia beranjak menuju kamar tidur. Pelan-pelan dibukanya pintu kamar, ia tidak ingin mengganggu tidur istrinya.

Benar saja istrinya tidak terbangun, tidak menyadari kehadirannya.

Kemudian Amin duduk di pinggir tempat tidur. Dipandanginya dalam-dalam wajah Aminah, istrinya.

Amin segera teringat perkataan almarhum kakeknya, dulu sebelum dia menikah.

Kakeknya mengatakan, jika kamu sudah menikah nanti, jangan berharap kamu punya istri yang sama persis dengan maumu. Karena kamu pun juga tidak sama persis dengan maunya.

Jangan pula berharap mempunyai istri yang punya karakter sama seperti dirimu. Karena suami istri adalah dua orang yang berbeda. Bukan untuk disamakan tapi untuk saling melengkapi.

Jika suatu saat ada yang tidak berkenan di hatimu, atau kamu merasa jengkel, marah, dan perasaan tidak enak yang lainnya, maka lihatlah ketika istrimu tidur….

“Kenapa Kek, kok waktu dia tidur?” tanya Amin kala itu.

“Nanti kamu akan tahu sendiri,” jawab kakeknya singkat.

Waktu itu, Amin tidak sepenuhnya memahami maksud kakeknya, tapi ia tidak bertanya lebih lanjut, karena kakeknya sudah mengisyaratkan untuk membuktikannya sendiri.

Malam ini, ia baru mulai memahaminya. Malam ini, ia menatap wajah istrinya lekat-lekat. Semakin lama dipandangi wajah istrinya, semakin membuncah perasaan di dadanya. Wajah polos istrinya saat tidur benar-benar membuatnya terkesima. Raut muka tanpa polesan, tanpa ekspresi, tanpa kepura-puraan, tanpa dibuat-buat. Pancaran tulus dari kalbu.

Memandanginya menyeruakkan berbagai macam perasaan. Ada rasa sayang, cinta, kasihan, haru, penuh harap dan entah perasaan apa lagi yang tidak bisa ia gambarkan dengan kata-kata.

Dalam batin, dia bergumam,
“Wahai istriku, engkau dulu seorang gadis yang leluasa beraktivitas, banyak hal yang bisa kau perbuat dengan kemampuanmu. Aku yang menjadikanmu seorang istri. Menambahkan kewajiban yang tidak sedikit. Memberikanmu banyak batasan, mengaturmu dengan banyak aturan.

Dan aku pula yang menjadikanmu seorang ibu. Menimpakan tanggung jawab yang tidak ringan. Mengambil hampir semua waktumu untuk aku dan anak-anakku.

Wahai istriku, engkau yang dulu bisa melenggang kemanapun tanpa beban, aku yang memberikan beban di tanganmu, dipundakmu, untuk mengurus keperluanku, guna merawat anak-anakku, juga memelihara rumahku.

Kau relakan waktu dan tenagamu melayaniku dan menyiapkan keperluanku. Kau ikhlaskan rahimmu untuk mengandung anak-anakku, kau tanggalkan segala atributmu untuk menjadi pengasuh anak-anakku, kau buang egomu untuk menaatiku, kau campakkan perasaanmu untuk mematuhiku.

Wahai istriku, di kala susah, kau setia mendampingiku. Ketika sulit, kau tegar di sampingku. Saat sedih, kau pelipur laraku. Dalam lesu, kau penyemangat jiwaku. Bila gundah, kau penyejuk hatiku. Kala bimbang, kau penguat tekadku. Jika lupa, kau yang mengingatkanku. Ketika salah, kau yang menasehatiku.

Wahai istriku, telah sekian lama engkau mendampingiku, kehadiranmu membuatku menjadi sempurna sebagai laki-laki.

Lalu, atas dasar apa aku harus kecewa padamu?
Dengan alasan apa aku perlu marah padamu?
Andai kau punya kesalahan atau kekurangan, semuanya itu tidak cukup bagiku untuk membuatmu menitikkan airmata.

Akulah yang harus membimbingmu. Aku adalah imammu, jika kau melakukan kesalahan, akulah yang harus dipersalahkan karena tidak mampu mengarahkanmu. Jika ada kekurangan pada dirimu, itu bukanlah hal yang perlu dijadikan masalah. Karena kau insan, bukan malaikat.

Maafkan aku istriku, kaupun akan kumaafkan jika punya kesalahan. Mari kita bersama-sama untuk membawa bahtera rumah tangga ini hingga berlabuh di pantai nan indah, dengan hamparan keridhoan Allah azza wa jalla.

Segala puji hanya untuk Allah azza wa jalla yang telah memberikanmu sebagai jodohku.”

Tanpa terasa air mata Amin menetes deras di kedua pipinya. Dadanya terasa sesak menahan isak tangis.

Segera ia berbaring di sisi istrinya pelan-pelan. Tak lama kemudian ia pun terlelap.

***

Jam dinding di ruang tengah berdentang dua kali.

Aminah, istri Amin, terperanjat
“Astaghfirullaah, sudah jam dua?”

Dilihatnya sang suami telah pulas di sampingnya. Pelan-pelan ia duduk, sambil memandangi wajah sang suami yang tampak kelelahan.

“Kasihan suamiku, aku tidak tahu kedatangannya. Hari ini aku benar-benar capek, sampai-sampai nggak mendengar apa-apa. Sudah makan apa belum ya dia?” gumamnya dalam hati.

Mau dibangunkan nggak tega, akhirnya cuma dipandangi saja. Semakin lama dipandang, semakin terasa getar di dadanya. Perasaan yang campur aduk, tak bisa diungkapkan dengan kata-kata, hanya hatinya yang bicara.

“Wahai suamiku, aku telah memilihmu untuk menjadi imamku. Aku telah yakin bahwa engkaulah yang terbaik untuk menjadi bapak dari anak-anakku. Begitu besar harapan kusandarkan padamu. Begitu banyak tanggungjawab kupikulkan di pundakmu.

“Wahai suamiku, ketika aku sendiri kau datang menghampiriku. Saat aku lemah, kau ulurkan tanganmu menuntunku. Dalam duka, kau sediakan dadamu untuk merengkuhku. Dengan segala kemampuanmu, kau selalu ingin melindungiku.

“Wahai suamiku, tidak kenal lelah kau berusaha membahagiakanku. Tidak kenal waktu kau tuntaskan tugasmu. Sulit dan beratnya mencari nafkah yang halal tidak menyurutkan langkahmu. Bahkan sering kau lupa memperhatikan dirimu sendiri, demi aku dan anak-anak.

“Lalu, atas dasar apa aku tidak berterimakasih padamu, dengan alasan apa aku tidak berbakti padamu? Seberapapun materi yang kau berikan, itu hasil perjuanganmu, buah dari jihadmu.

Jika kau belum sepandai da’i dalam menasehatiku, tapi kesungguhanmu beramal shaleh membanggakanku.
Tekadmu untuk mengajakku dan anak-anak istiqomah di jalan Allah azza wa jalla serta membahagiakanku.

“Maafkan aku wahai suamiku, akupun akan memaafkan kesalahanmu.

Alhamdulillah, segala puji hanya milik Allah azza wa jalla yang telah mengirimmu menjadi imamku. Aku akan taat padamu untuk mentaati Allah azza wa jalla. Aku akan patuh kepadamu untuk menjemput ridho-Nya..”

Rabbana hablana min azwajina wa dzurriyatina qurrota’ayun waj’alna lil muttaqina imamma


Senin, 04 Januari 2016

PERNIKAHAN BUKANLAH SURGA YANG DIJANJIKAN

PERNIKAHAN BUKANLAH SURGA YANG DIJANJIKAN
Banyak yg mengeluh setelah menikah, banyak yang meragukan janji Nabi betapa BERKAHNYA Pernikahan, KENAPA???
Karena banyak yg beranggapan bahwa pernikahan adalah surga yang dirindukan atau yang dijanjikan... Padahal pernikahan adalah jalan pintas bagi suami atau istri utk mendapatkan tempat spesial di Surganya Allah swt. Tentunya bagi mereka yang berhasil menjadi suami seperti Nabi atau bagi istri yang mampu mencontoh kesabarannya para istri nabi.
Maka bersabar, bersabar, bersabar, dan bersyukur, bersyukur,dan bersyukur lagi, lagi, dan lagi bahkan sampai akhir, adalah merupakan komponen utama jika surga yang anda rindukan itu ingin engkau Rajud dan dapat dipastikan Jannah Firdausnya pun merindukanMu. 
Peluk cium utuk bidadari surga anda...


Kamis, 19 Februari 2015

MUKMIN YANG KUAT LEBIHBAIK DAN LEBIH DICINTAI ALLAH DARIPADA MUKMIN YANG LEMAH

Segala puji kita haturkan kepada Allah Subhana wa Ta’ala Dzat Yang Maha Hikmah dan ilmuNya meliputi segala sesuatu. Sholawat serta salam semoga senantiasa terhatur kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, kepada, istri-istri, keluarga, sahabat dan umat beliau.
Al Imam Muslim meriwayatkan sebuah hadits dalam kitab Shahihnya,


حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِى شَيْبَةَ وَابْنُ نُمَيْرٍ قَالاَ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ إِدْرِيسَ عَنْ رَبِيعَةَ بْنِ عُثْمَانَ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ يَحْيَى بْنِ حَبَّانَ عَنِ الأَعْرَجِ عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « الْمُؤْمِنُ الْقَوِىُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِى كُلٍّ خَيْرٌ احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجِزْ وَإِنْ أَصَابَكَ شَىْءٌ فَلاَ تَقُلْ لَوْ أَنِّى فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا. وَلَكِنْ قُلْ قَدَرُ اللَّهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ ».


Abu Bakr Bin Abu Syaibah dan Ibnu Numair telah mengabarkan kepada kami, keduanya mengatakan, ‘Abdullah bin Idris telah mengabarkan kepada kami dari Robi’ah bin Utsman dari Muhammad bin Yahya bin Habban dari Al A’roj dari Abu Huroiroh Rodhiyallahu ‘anhu, Dia mengatakan, ‘Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda’,
“Mukmin yang kuat itu lebih baik dan lebih dicintai Allah dari pada mukmin yang lemah, (namun) pada keduanya ada kebaikan. Besemangatlah (mengerjakan/terhadap) hal-hal yang bermafaat bagimu, meminta tolonglah kepada Allah dan jangan malas. Jika sesuatu (yang buruk) menimpa dirimu maka janganlah katakan ‘seandainya aku tadi melakukan ini dan itu’tetapi katakanlah Qodarullah (ini adalah takdir Allah) dan apa yang dikehendakinya pasti terlaksana. Karena jika engkau mengatakan ‘seandainya’ maka engkau akan membuka jalan bagi amalan syaithon”[1].
 Faidah-Faidah dari Hadits Di Atas :
Adanya penetapan bahwa Allah Subhana wa Ta’ala memiliki shifat mencintai yang sesuai dengan kebesaran Allah, shifat ini berhubungan dengan orang-orang yang dicintai dan juga setiap orang yang menegakkan kecintaan kepadaNya. Hal ini diambil dari potongan Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam (وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ)
Hadits ini menunjukkan bahwa iman itu mencakup aqidah yang tertanam di dalam hati, perkataan lisan dan perbuatan anggota badan. Hal ini disimpulkan dari potongan Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam (الْمُؤْمِنُ الْقَوِىُّ), (احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ) dan (لَكِنْ قُلْ قَدَرُ اللَّهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ). Dan inilah defenisi iman menurut Ahlu Sunnah wal Jama’ah. (silakan lihat tulisan kami yang berjudul ‘iman adalah…….’ di : http://alhijroh.com/aqidah/iman-adalah/)
Iman bertambah dan berkurang. Hal ini dapat kita simpulkan dari potongan Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam (احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجِزْ).
Seorang mukmin itu bertingkat-tingkat derajatnya. Hal ini dapat kita simpulkan dari potongan Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam (الْمُؤْمِنُ الْقَوِىُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ).
Perkara yang bermafaat itu ada dua jenis, [1]. Perkara Agama dan [2]. Perkara dunia. Seorang hamba membutuhkan perkara dunia demikan halnya ia juga membutuhkan perkara agama. Maka poros kebahagiaan itu adalah bersemangat untuk mendapatkan kedua hal tersebut namun harus dibarengi dengan adanya isti’anah (meminta pertolongan) kepada Allah ‘Azza wa Jalla.
Perkara yang bermanfaat berupa perkara agama/akhirat terbagi menjadi dua hal yaitu, [1]. ‘Ilmu Nafi’ (ilmu yang bermafaat) yaitu apa yang ada di dalam Al Qur’an dan hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Ilmu inilah yang dapat memberikan kebahagian di dunia dan di akhirat.
[2]. ‘Amal Sholeh yaitu amal yang terkumpul padanya dua hal yaitu ikhlas
kepada Allah dan Mutaba’ah kepada Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam.
Adapun perkara yang bermafaat di dunia maka seorang hamba Allah haruslah mencari rizki dengan menempuh jalan/metoda yang layak dan paling bermanfaat bagi dirinya. Oleh karena itu hal ini berbeda-beda sesuai personnya. Kemudian hendaklah ia mencarinya diniatkan untuk memenuhi hak-hak bagi jiwa raganya pribadi dan/atau hak orang-orang yang menjadi tanggungannya (semisal anak, istri, orang tua yang telah papa) agar dapat terhindar dari meminta-minta dari manusia lainnya.
Ketika mencari rizki hendaklah dia tidak semata-mata bersandar pada kemampuannya, kecerdasannya maupun akalnya. Namun hendaklah dia menyandarkan urusannya kepada Allah dan berharap Allah mudahkan baginya serta memohon agar rizki yang dicarinya mendapat berkah dari Allah Subhana wa Ta’ala.
Adapun berkah pada rizki dapat saja terjadi dalam bentuk/tanda rizki tersebut [1] rizki tersebut menjadi faktor yang memperkuat ketaqwaan seorang hamba dan niat baiknya, [2] rizki tersebut diletakkan ditempat sebagaimana mestinya yaitu pada tempat yang wajib atau mustahab, [3] rezki yang dimilikinya dapat memudahkan urusan orang, semisal memberikan tempo bagi orang yang memiliki hutang padanya.
Kewajiban ridho terhadap takdir Allah setelah dia mencurahkan segenap kesungguhannya. Sehingga apabila sesuatu yang kurang menyenangkan hatinya menimpa dirinya maka dirinya akan merasa lapang dan tenang tentram sehingga bertambahlah imannya.
Adapun hukum penggunakan kata (لَوْ) ‘seandainya’ maka hukumya berbeda-beda tergantung niatnya. [1]. Jika diucapkan pada keadaan yang seseorang tersebut tidak mungkin lagi mendapatkannya maka pertakaan (لَوْ) ‘seandainya’ akan membuka pintu bagi amalan syaithon. [2]. Demikian juga halnya jika digunakan untuk menghayalkan/berharap keburukan dan maksiat. [3]. Adapun jika digunakan untuk mengharapkan/berharap kebaikan atau untuk menjelaskan ilmu yang bermanfaat maka terpuji.

Demikianlah yang bisa kami sampaikan mudah-mudahan bermanfaat
[Disadur dan diterjemahkan dari Kitab Bahjah Qulub Al Abror syaikh ‘Abdur Rohman bin Sa’di hal40-46 terbitan Dar Al Kutub]
Aditya Budiman bin Usman (Semoga Allah menjauhkan kami dari api neraka)


Bahaya Terlalu Lama Duduk Bagi Kesehatan

Duduk merupakan kegiatan rutin yang sering dilakukan oleh semua orang di semua lapisan umur. Banyak sekali waktu telah di habiskan pada kegiatan yang satu ini. Berbagai faktor yang menjadi penyebabnya. Bagi pekerja kantoran, banyak sekali pekerjaan yang harus mereka selesaikan dengan hanya duduk di ruang kerja. Begitupun bagi yang hobi berinternet, duduk selama berjam-jam pun tidak akan pernah mereka sadari. Padahal, ada fakta mengejutkan bahwa terlalu lama duduk pada aktivitas harian akan membahayakan kesehatan tubuh dan mengundang berbagai penyakit mematikan. Lalu, apa saja bahaya terlalu lama duduk bagi kesehatan tubuh tersebut....???
      Sahabat, tips kesehatan.Menurut the Diabetes Group at the University of Leicester, terkuak fakta bahwa seseorang yang banyak menghabiskan waktunya dengan duduk yang terlalu lama akan memiliki resiko besar terserang penyakit diabetes, jantung dan memperpendek usia. Para peneliti tersebut juga menyarankan untuk meningkatkan aktivitas fisik seperti berjalan-jalan untuk mengurangi atau menghilangkan berbagai efek buruk dari terlalu lama duduk tersebut. Menurut Prof Stuart Biddle dari loughborough University, mereka yang pergi ke tempat gym setelah seharian duduk memiliki kesehatan tubuh yang lebih baik daripada mereka yang langsung menonton televisi setelah seharian duduk dalam pekerjaannya.
     Kehidupan yang serba mudah di era di gital memang berdampak positif dalam hal mempercepat semua pekerjaan seseorang. Namun, tidak berdampak positif pada peningkatan kualitas kesehatan pada tubuh. Ini dikarenakan, rutinitas yang kita lakukan banyak dilakukan di depan komputer maupun laptop yang mengharuskan seseorang untuk duduk dalam waktu yang relatif lama. Berbagai solusi dapat kita lakukan untuk mengurangi atau bahkan menghilangkan berbagai dampat buruk akibat terlalu lama duduk tersebut.
Rutin berolahraga pagi selama 30 menit merupakan tips untuk menyehatkan seluruh anggota tubuh dan persendian anda. Anda dapat memulainya dengan berjalan santai, berlari pelan, bersepeda atau bahkan berenang.
Bagi pekerja kantoran, usahakan untuk memberikan jeda beberapa menit saat beraktivitas selama kurang lebih setengah jam. Dengan melakukan aktivitas jalan di tempat atau berjalan-jalan sebentar keluar ruangan kerja anda.
Bagi peselancar dunia maya atau yang hobi berinternet, maka berikan istirahat pada organ mata dan berjalanlah keluar ruangan selama beberapa menit setelah duduk selama 30 menit di depan layar komputer atau laptop.
Terlalu lama  menonton televisi akan memaksa seseorang untuk duduk dengan durasi waktu yang lama. Oleh karena itulah, bersegeralah mematikan televisi saat jam tidur malam telah tiba atau batasi untuk menonton acara televisi untuk hidup yang lebih sehat.  

Rabu, 04 Februari 2015

MINYAK URUT UNTUK ANAK TERLAMBAT BERJALAN/ TELAT JALAN/




Khusus untuk anak anak yang  terlambat berjalan :

Proses pembuatan 
          
1. Minyak ini terbuat  dari bahan baku yang berasal dari  kelapa hijau.
2. Setelah itu dari kelapa hijau itu di ambil minyaknya.
3. Kemudian minyak yang sudah di tanak  direndam selama 3 hari 3 malam.

Siap untuk diurutkan khususnya digunakan kepada anak yang belum bisa berjalan.

KHASIAT DAN KEGUNAAN
            Adapun khasiat dari miyak urut kelapau hijau ini ialah:
1. Memperkuat tulang anak-anak yang lemah karena dibawa lahir.
2. Menghillangkan rasa pegal-pegal karena keletihan dan menormalkan kembali saraf2 yang     tegang
3. TRAUMA MEMBUAT ANAK "MOGOK" JALAN


penjelasan lebih lanjut bisa dikunjungi webbwerikut ini ...
http://tabloidnova.com/Keluarga/Anak/Kok-Anakku-Belum-Jalan-Juga
 

Oleskan keseluruh tubuh atau bagian yang sakit sambil diurut dari atas kearah bawah,
Anak yang belum bisa berjalan  Insyaallah akan lekas berjalan dan bagi bapak/ibu atau saudara/i  yang merasa pegal-pegal badan kecapean, ataupun terasa kaku akan terasa bugar kembali.





Bagi yang berminat silahkan dihubungi
via Telp. / whatsApp
hp:
 0822.7213.7170
0852.9737.4865 (WA)