JANGAN
BOROS MEMAKAI TISSUE …!
Kamis, 23 Mei 2013
Minggu, 05 Mei 2013
Bagaimanakah Manusia Diuji Menurut al-Qur’an?
Bagaimanakah Manusia Diuji Menurut al-Qur’an?
Pertanyaan
Menurut al-Qur’an bagaimanakah
manusia itu diuji?
Jawaban Global
Allah Swt dalam al-Qur’an berfirman,
“Aku mencipta manusia supaya Aku menguji di antara mereka siapa yang paling
baik amalnya” yang dimaksud dengan ujian dan cobaan yang digeral Tuhan tentu
berbeda dengan pelbagai ujian yang diselenggarakan manusia.
Ujian-ujian yang diselenggarakan
manusia adalah untuk mengenal lebih baik dan menghilangkan keburaman dan
ketidaktahuan. Namun ujian Ilahi sejatinya adalah untuk penempaan dan tarbiyah
manusia. Artinya ujian dan cobaan Ilahi adalah ruang-ruang untuk mentarbiyah,
menempa dan menyempurnakan manusia.
Allah Swt menggunakan beberapa jalan
dan cara untuk menguji manusia sesuai dengan kemampuannya. Terkadang melalui
pelbagai kesulitan dan kepelikan hidup, terkadang dengan kebaikan dan
keburukan, melalui banyaknya harta dan kekayaan, modal, anak, musibah dan lain
sebagainya.
Jawaban Detil
Definisi Ujian Ilahi
Apa yang disebut dalam bahasa kita
sebagai “ujian” atau “cobaan” disebutkan dalam ragam redaksi dalam al-Qur’an
misalnya, “ibtilâ”, “fitnah”, “tamhish.” Allah Swt dalam
al-Qur’an berfirman: Aku mencipta manusia supaya Aku menguji di antara mereka
siapa yang paling baik amalnya. “Yang menciptakan mati dan hidup supaya Dia
mengujimu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa
lagi Maha Pengampun.” (Qs. Al-Mulk [67]:2)
Yang dimaksud dengan ujian dan
cobaan yang digeral Tuhan tentu berbeda dengan pelbagai ujian yang
diselenggarakan manusia.
Ujian-ujian yang diselenggarakan
manusia adalah untuk mengenal lebih baik dan menghilangkan keburaman dan
ketidaktahuan. Namun ujian Ilahi sejatinya adalah untuk penempaan dan tarbiyah
manusia.[1] Artinya ujian dan cobaan Ilahi adalah
ruang-ruang untuk mentarbiyah, menempa dan menyempurnakan manusia sebagaimana
para nabi Ilahi seperti Nabi Ibrahim yang ditempa dengan pelbagai ujian
kesulitan dan kepelikan hidup kemudian menggondol makam-makam tertinggi.[2]
Obyek-obyek Ujian Ilahi dalam
al-Qur’an
Ujian dan cobaan Ilahi untuk manusia
merupakan salah satu sunnahtullah.
Al-Qur’an menyatakan, “Apakah
manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan, “Kami telah
beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji
orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang
yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (Qs.
Al-Ankabut [29]:2-3) Terkadang al-Qur’an menyebutkan satu ujian umum yang
digelar untuk seluruh hamba Tuhan dengan ungkapan, “Apakah manusia itu
mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan, “Kami telah beriman”, sedang
mereka tidak diuji lagi?” (Qs. Al-Ankabut [29]:2)
Terkadang al-Qur’an menyingkap satu
jenis ujian khusus yang ditujukan untuk orang-orang dan kaum tertentu. Masalah
ini yang membentuk satu jenis episode dan kisah-kisah al-Qur’an, misalnya
kisah-kisah para nabi dan kaumnya.
Ayat-ayat yang berkisah tentang
ujian-ujian umum lebih banyak dari apa yang dapat dikemukakan di sini. Di sini
kami hanya akan menyinggung beberapa hal terkait dengan cobaan dan ujian-ujian
Ilahi yang disebutkan dalam al-Qur’an:
1. Pelbagai Kesulitan dan Kepelikan
Allah Swt menguji manusia dengan
perantara pelbagai kesulitan dan kepelikan. Allah Swt berfirman, “Dan
sungguh Kami akan berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan,
kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada
orang-orang yang sabar.” (Qs. Al-Baqarah [2]:155)
Pelbagai kesulitan adalah tungku
pembakaran yang memberikan kekuatan dan ketahanan pada besi. Demikian juga manusia
dalam tempaan tungku pembakaran pelbagai kesulitan dan kepelikan akan menjadi
kokoh dan kuat serta mampu untuk merobohkan pelbagai rintangan yang menghalang
di hadapannya dalam upayanya meniti jalan menuju kebahagiaan.
Bencana memiliki efek edukatif dan
pembinaan individu dan pembangun masyarakat. Kesulitan hidup akan membangunkan
dan mengingatkan manusia yang terlelap. Kesulitan hidup adalah penggerak tekad
dan kehendak manusia. Kesulitan-kesulitan hidup adalah laksana pemberi polesan
terhadap besi dan baja yang semakin dekat dengan magnet akan membuat orang
semakin bulat tekadnya, lebih aktif dan lebih giat. Karena tipologi hidup
adalah supaya manusia bertahan di hadapan pelbagai kesulitan dan bersiaga
menghadapinya. Kesulitan laksana senyawa kimia yang memiliki tipologi untuk
membangkitkan kuiditas dan merubah jiwa dan kepribadian manusia.[3]
2. Keburukan dan Kebaikan
Sebagaimana al-Qur’an menyatakan, “Tiap-tiap
yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan mengujimu dengan keburukan dan
kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kami-lah kamu
dikembalikan.” (Qs. Al-Anbiya [21]:35) Dengan demikian bahkan kebaikan
sekali pun juga dapat menjadi sebuah faktor ujian bagi manusia. Misalnya
seseorang yang mampu memperoleh kekayaan, harta atau tanggun jawab yang
menyebabkan dirinya dihormati dan disanjung namun ia tidak dapat
memanfaatkannya dengan baik sehingga mudah menjadi obyek tipu daya setan.
3. Melimpahnya Karunia
Ujian-ujian Ilahi tidak selamanya
dalam bentuk pelbagai peristiwa pelik dan susah melainkan terkadang Tuhan
menguji para hamba-Nya dengan karunia yang banyak dan melimpah[4] sebagaimana al-Qur’an menarasikan kisah Nabi Sulaiman, “Tetapi)
seseorang yang mempunyai sebuah ilmu dari kitab (samawi) berkata, “Aku akan
membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip.” Maka tatkala Sulaiman
melihat singgasana itu terletak di hadapannya, ia pun berkata, “Ini termasuk
karunia Tuhan-ku untuk mencobaku apakah aku bersyukur atau mengingkari
(nikmat-Nya). Dan barang siapa yang bersyukur, maka sesungguhnya dia bersyukur
untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barang siapa yang ingkar, maka sesungguhnya
Tuhan-ku Maha Kaya lagi Maha Mulia.”” (Qs. Al-Naml [27]:40)
Kelompok lainnya yang karam dalam
samudera anugerah dan segala fasilitas berada dalam jangkaunnya. Ujian mereka
adalah apakah dalam kondisi seperti ini untuk menunaikan tugas yaitu bersyukur
atas anugerah yang diberikan ini dan menolong orang-orang susah atau tenggelam
dalam kelalaian, angkuh, congkak, mementingkan diri sendiri.
4. Anak-anak
Al-Qur’an menyebutkan, “Dan
ketahuilah bahwa harta dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan
sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (Qs. Al-Anfal
[8]:28)
5. Iman dan Kafir
Al-Qur’an mengingatkan tentang
penjaga neraka dan menyebut jumlah mereka sebanyak sembilan belas malaikat
kemudian mengimbuhkan, “Kami tidak menjadikan penjaga neraka itu melainkan
dari malaikat dan tidaklah Kami menjadikan bilangan mereka itu melainkan
sebagai cobaan bagi orang-orang kafir supaya ahli kitab (Yahudi dan Kristen)
menjadi yakin, supaya iman orang yang beriman bertambah, supaya ahli kitab dan
orang-orang mukmin itu tidak ragu-ragu, dan supaya orang-orang yang di dalam
hatinya ada penyakit dan orang-orang kafir berkata, “Apakah yang dikehendaki
Allah dengan menjelaskan sifat-sifat neraka Saqar itu?” Demikianlah Allah
menyesatkan orang-orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa
yang dikehendaki-Nya. Dan tidak ada yang mengetahui bala tentara Tuhan-mu
melainkan Dia sendiri. Dan Saqar itu tidak lain hanyalah peringatan bagi
manusia.” (Qs. Al-Mudattsir [74]:31)
6. Ornamen dan Hiasan di Muka Bumi
Pada sebuah ayat al-Qur’an
disebutkan tentang apa yang terdapat di bumi dipandang sebagai sebuah ujian. “Sesungguhnya
Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami
menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya.” (Qs.
Al-Kahf [18]:7) [IQuest]
[1]. Nasir Makarim Syirazi, Tafsir Nemune, jil. 1, hal.
527, Dar al-Kutub al-Islamiyah, Cetakan Keduapuluh Satu, 1365 S.
[2]. “Dan (ingatlah) ketika Ibrahim diuji oleh Tuhannya
dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu ia menunaikannya (dengan
baik). Allah berfirman, “Sesungguhnya Aku menjadikanmu imam bagi seluruh
manusia.” Ibrahim berkata, “Dan dari keturunanku (juga)?” Allah berfirman,
“Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang-orang yang zalim.” (Qs.
Al-Baqarah [2]:124)
[3]. Diadaptasi dari Pertanyaan No. 2056 (Site: 2418)
[4]. Tafsir Nemune, jil. 1, hal. 533.
Selasa, 09 April 2013
Khalifah Utsman bin Affan Korban Fitnah
Khalifah Utsman bin Affan Korban Fitnah
Beliau
adalah Abu Abdillah Utsman bin Affan bin al-Ash bin Umayyah bin Abdi
Syams bin Abdi Manaf. Nasab beliau bertemu dengan nasab Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam pada kakek keempat yaitu Abdu Manaf, di masa jahiliah
beliau dipanggil Abu Amr namun tatkala dari istri beliau yaitu Ruqayyah binti
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terlahir seorang laki-laki yang
diberi nama Abdullah lalu beliau berganti menjadi Abu Abdillah, dan beliau
masyhur dengan julukan dzu nurain (pemilik dua cahaya).
Di masa jahiliyah Utsman bin Affan adalah seorang yang terpandang dan dimuliakan oleh kaumnya. Beliau dikenal sebagai seorang yang sangat pemalu, hartawan, dan pemilik petuah yang didengar. Karena itulah ia sangat dicintai dan dimuliakan oleh kaumnya. Ia tidak pernah sujud kepada sebuah patung pun, tidak pula berbuat keji, tidak pernah meminum khamar baik sebelum maupun setelah Islam. Utsman bercerita, “Aku tidak pernah bernyanyi, tidak pula panjang angan-angan, aku pun tidak pernah menyentuh dzakarku dengan tangan kananku setelah aku gunakan tangan itu untuk membai’at Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, aku tidak pernah minum khamar di masa jahiliah maupun setelah Islam.”
Di masa jahiliyah Utsman bin Affan adalah seorang yang terpandang dan dimuliakan oleh kaumnya. Beliau dikenal sebagai seorang yang sangat pemalu, hartawan, dan pemilik petuah yang didengar. Karena itulah ia sangat dicintai dan dimuliakan oleh kaumnya. Ia tidak pernah sujud kepada sebuah patung pun, tidak pula berbuat keji, tidak pernah meminum khamar baik sebelum maupun setelah Islam. Utsman bercerita, “Aku tidak pernah bernyanyi, tidak pula panjang angan-angan, aku pun tidak pernah menyentuh dzakarku dengan tangan kananku setelah aku gunakan tangan itu untuk membai’at Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, aku tidak pernah minum khamar di masa jahiliah maupun setelah Islam.”
Keutamaan
Utsman bin Affan
Beliau termasuk as-sabiqun
al-awwalun (orang-orang yang pertama menyambut dakwah Islam). Beliau
mengikrarkan diri sebagai seorang muslim berkat dakwah Abu Bakr Ash-Shidddiq
pada umur 34 tahun. Di saat kaumnya menolak dan mengingkari seruan dakwah Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam ia justru membentangkan tangan, membuka hati, dan meyakini
tanpa keraguan. Tatkala seruan hijrah dikumandangkan beliau adalah termasuk
seorang yang tampil melaksanakan perintah sehingga beliau dua kali berhijrah,
ke negeri Habasyah dan Madinah.
Keunggulan sahabat Utsman
semakin tampak pada beberapa keadaan penting di masa Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam yang saat itulah figur Utsman dikenal sebagai salah satu
sahabat yang tidak disebut melainkan kebaikan. Di saat musim paceklik panjang,
kemiskinan dan kefakiran menjadi bagian bagi setiap kaum muslimin. Di saat itu
pula Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyerukan seruan jihad
dan beliau tengah menyiapkan pasukan besar untuk diberangkatkan dalam Perang
Tabuk melawan pasukan Romawi. Pasukan itu disebut jaisyul ‘usroh karena
sulitnya kondisi materi para sahabat pada saat itu. Namun, Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam tetap mendorong para sahabatnya untuk berinfak dan
bersedekah dalam rangka menyiapkan pasukan besar tersebut. Hingga Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam mengatakan,
“Barang siapa yang menyiapkan
jaisyul usyroh, maka baginya surga.”
Tiba-tiba datanglah seorang saudagar
kaya yang dermawan dialah Utsman bin Affan membawa kepingan-kepingan
dinar berjumlah 1000 dinar lalu diberikan di hadapan Rasulullah shalallahu
‘alaihi wa sallam. Sambil memeganginya keluarlah ucapan yang masyhur dari
bibir Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia,
“Tidaklah memudharatkan Utsman apa
yang ia lakukan setelah ini.”
Dan juga pada saat jumlah kaum
muslimin semakin bertambah dan Masjid Nabawi serasa tidak dapat lagi menampung
jamaah, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Barang siapa membeli lokasi
milik keluarga fulan lalu menambahkan untuk perluasan masjid dengan kebaikan
maka ia kelak di surga.” Lalu Utsman membelinya dari kantong uang miliknya
lalu tanah itu diwakafkan untuk masjid.
Demikian juga tatkala Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam hijrah ke Madinah maka tidak dijumpai air tawar kecuali
dari sumur rumah. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Barang siapa membeli sumur dan
menjadikan gayung miliknya bersama dengan gayung milik kaum muslimin maka kelak
ia di surga.” Mendengar ucapan tersebut Utsman pun segera membelinya.
Kemudian satu hal yang tidak boleh
dilupakan – yang menambah kemuliaan sahabat Utsman, beliau adalah seorang mu’alim
yang cinta kepada Alquran. Kecintaannya terhadap Alquran telah membuahkan hasil
yang senantiasa dikenang hingga hari kiamat, peristiwa pengumpulan Alquran dan
penyeragaman bacaan adalah bukti nyata bagi seorang yang mau merenunginya.
Beliaulah sahabat yang telah meriwayatkan sabda Rasulullah shalallahu
‘alaihi wa sallam,
“Sebaik-baik kalian adalah yang
mempelajari Alquran dan mengajarkannya.”
Dan suatu hari Utsman memanggil
orang-orang, lalu berwudhu di hadapan mereka, kemudian beliau mengatakan,
“Barang siapa yang berwudhu semisal wudhuku ini lalu shalat dua rakaat dan
tidak berbincang-bincang di dalamnya, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala
akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”
Beliau juga sering memperingatkan
manusia dari bahaya dusta atas nama agama, dari beliaulah diriwayatkan sabda
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, “Barang siapa yang berdusta
atas namaku dengan sengaja maka silakan mengambil tempat duduk di neraka.”
Dan masih banyak lagi
keutamaan-keutamaan beliau yang lain, namun tidak ada yang lebih menggembirakan
dari itu semua dibandingkan persaksian Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa
sallam bahwa Utsman adalah min ahlil jannah (salah satu penghuni
surga).
Dari Abu Musa al-Asy’ari beliau
berkata, “Suatu hari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk ke sebuah
kebun dan beliau memerintahku untuk menjaga pintu kebun tersebut, maka
datanglah seorang laki-laki meminta izin untuk masuk maka Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam mengatakan, ‘Izinkanlah ia masuk dan berikan kabar
gembira kepadanya berupa surga.’ Ternyata ia adalah Abu Bakr. Lalu datang
seorang laki-laki yang lain dan meinta izin untuk masuk, lalu Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam mengatakan, ‘Izinkanlah ia masuk dan berikan kabar
gembira kepadanya berupa surga.’ Ternyata dia adalah Umar. Kemudian datang
lagi seorang yang lain meminta izin untuk masuk, namun sejenak Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam terdiam, lalu beliau mengatakan, ‘Izinkanlah ia masuk
dan berikan kabar gembira kepadanya berupa surga atas bala yang akan menimpanya.’
Ternyata dia adalah Utsman bin Affan.”
Ishaq bin Rahawaih mengatakan,
“Tidak ada seorang pun sepeninggal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam orang
yang paling baik di muka bumi ini kecuali Abu Bakr, dan tidak ada orang yang
lebih baik sepeninggalnya kecuali Umar, dan tidak ada orang yang lebih baik
sepeninggalnya kecuali Utsman, serta tidak ada orang yang lebih baik dan lebih
mulia sepeninggalnya kecuali Ali.”
Gelombang Fitnah yang bertubi-tubi
Merupakan mukjizat kenabian, apa
yang disabdakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pasti terjadi. Abu
Hurairah telah meriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Sesungguhnya kalian akan
menjumpai setelahku fitnah dan perselisihan atau perselisihan dan fitnah.” Maka
berkata salah seorang, “Lalu kepada siapa kami akan memihak?” Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda, “Berpegangteguhlah kalian kepada al-Amiin
ini dan sahabat-sahabatnya.” Lalu beliau mengisyaratkan kepada Utsman.”
Maka atas apa yang telah dikabarkan
oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Utsman pun mengetahui
bahwa kelak ia akan dibunuh secara zalim, dan orang-orang yang keluar darinya
akan menghalalkan darahnya adalah orang-orang munafik. Apa yang disabdakan
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam benar-benar terjadi, setelah
beliau diangkat menjadi Khalifah kaum muslimin yang sah, beliau banyak menuai
protes, banyak menerima kritikan dan tuduhan dari para pemberontak. Api itu
makin menghalalkan darah Utsman. Di antara tuduhan-tuduhan keji mereka:
Pertama: mereka menuduh Utsman tidak berlaku adil dalam
pengangkatan para pejabatnya karena ia mengutamakan keluarganya dan mencopot
jabatan sebagian sahabat kibar (senior), serta menggantinya dengan
orang-orang yang lebih muda umurnya.
Jawaban atas tuduhan tersebut:
Adapun penggantian jabatan dari sahabat senior kepada para pemuda, maka sungguh bagi beliau terdapat panutan yang baik sebelumnya. Bukankah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah menyiapkan pasukan besar untuk memerangi Romawi lalu beliau menunjuk panglimanya adalah Usamah bin Zaid yang tatkala itu masih berusia belia, sedang di belakangnya banyak para sahabat senior seperti Abu Bakr dan Umar…?? dan sebelum pasukan besar tersebut diberangkatkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terlebih dahulu meninggal dunia. Apa reaksi manusia tatkala itu, mereka datang kepada Umar untuk membujuk Abu bakar, agar ia mencopot jabatan Usamah bin Zaid sebagai panglima, maka sahabat Abu Bakr marah besar dan mengatakan kepada Umar, “Wahai Umar, ia adalah orang yang telah diangkat langsung oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, lalu engkau memintaku untuk mencopotnya?!!”
Adapun penggantian jabatan dari sahabat senior kepada para pemuda, maka sungguh bagi beliau terdapat panutan yang baik sebelumnya. Bukankah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah menyiapkan pasukan besar untuk memerangi Romawi lalu beliau menunjuk panglimanya adalah Usamah bin Zaid yang tatkala itu masih berusia belia, sedang di belakangnya banyak para sahabat senior seperti Abu Bakr dan Umar…?? dan sebelum pasukan besar tersebut diberangkatkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terlebih dahulu meninggal dunia. Apa reaksi manusia tatkala itu, mereka datang kepada Umar untuk membujuk Abu bakar, agar ia mencopot jabatan Usamah bin Zaid sebagai panglima, maka sahabat Abu Bakr marah besar dan mengatakan kepada Umar, “Wahai Umar, ia adalah orang yang telah diangkat langsung oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, lalu engkau memintaku untuk mencopotnya?!!”
Al-Imad Ibnu Katsir mengatakan,
“Utsman adalah seorang yang berakhlak mulia, sangat pemalu, dan dermawan.
Beliau sering mendahulukan keluarga dan kerabat-kerabatnya karena Allah Subhanahu
wa Ta’ala dalam rangka untuk ta’liful qulub (melunakkan hati), untuk
suatu tujuan yang kekal melalui perkara-perkara dunia yang fana sebagaimana
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga telah memberi suatu kaum
dan tidak memberikan kepada kaum yang lain untuk suatu tujuan agar mereka
mendapat hidayah dan iman, dan sungguh untuk tujuan ini suatu kaum memahaminya,
tidak sebagaimana kaum Khawarij telah melakukan protes atas apa yang diperbuat
oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam.”
Kedua: beliau dituduh telah membuat perkara baru yang tidak ada
contoh sebelumnya seperti pengumpulan ayat-ayat Alquran dalam sebuah mushaf,
beliau tidak meng-qashar shalat tatkala di Mina, dan beliau menambahkan adzan
menjadi dua kali pada hari Jumat.
Jawaban atas tuduhan tersebut:
Adapun beliau membakar seluruh mushaf dan menjadikan satu mushaf saja yang disepakati maka justru para ulama memandang hal itu adalah perbuatan mulia yang menjadikan kemuliaan bagi sahabat Utsman, karena berarti beliau telah memupus benih-benih perpecahan di tubuh kaum muslimin perihal bacaan kitab suci mereka. Lihatlah apa tindakan Abu Hurairah setelah Utsman melakukan apa yang beliau lakukan terhadap Alquran lalu sahabat Abu Hurairah menemuinya seraya mengatakan, “Sungguh engkau telah benar dan mencocoki kebenaran.”
Adapun beliau membakar seluruh mushaf dan menjadikan satu mushaf saja yang disepakati maka justru para ulama memandang hal itu adalah perbuatan mulia yang menjadikan kemuliaan bagi sahabat Utsman, karena berarti beliau telah memupus benih-benih perpecahan di tubuh kaum muslimin perihal bacaan kitab suci mereka. Lihatlah apa tindakan Abu Hurairah setelah Utsman melakukan apa yang beliau lakukan terhadap Alquran lalu sahabat Abu Hurairah menemuinya seraya mengatakan, “Sungguh engkau telah benar dan mencocoki kebenaran.”
Adapun tatkala di Mina beliau shalat
sempurna dan tidak meng-qashar, maka beliau menjawab sendiri tuduhan tersebut,
“Ketahuilah, yang demikian adalah karena aku mendatangi suatu negeri yang di
dalamnya terdapat keluargaku, sehingga aku menyempurnakannya karena dua asalan
bermukin dan menjenguk keluarga.”
Dan Al-Hafizh telah menukil dari
Al-Iman az-Zuhri beliau mengatakan, “Utsman shalat sempurna di Mina empat
rakaat karena orang badui (Arab pegunungan) di tahun itu sangatlah banyak, maka
Utsman hendak mengajari mereka bahwa shalat (zhuhur dan Ashar) adalah empat rakaat.”
Adapun tentang beliau menambahkan
adzan sebelum Jumat karena beliau memandang terdapat maslahat yang menuntut
akan hal tersebur, karena kota Madinah semakin luas dan orang-orang semakin
banyak sehingga adzan tersebut adalah tanda bahwa shalat Jumat akan segera
ditegakkan.
Al-Imam al-Bukhari meriwayatkan dari
Saib bin Yazid bahwa Utsman menambahkan adzan kedua pada masanya karena tatkala
itu manusia yang tinggal di Madinah sudah sangatlah banyak.
Dan seandainya perbuatan itu munkar
maka pasti akan diingkari oleh para sahabat senior yang tatkala itu masih
hidup. Kalau demikian keadaannya, maka hal itu merupakan salah satu sunah
khulafaur rasyidin dan sunah mereka adalah termasuk sunah Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam yang kita diperintah untuk berpegang teguh dengannya.
Ketiga: Beliau dicela karena beberapa tindakan di antaranya karena
beliau telah absen dalam Perang Badar, dan ketika Perang Uhud beliau termasuk
orang-orang yang ikut lari ke belakang dan beliau tidak ikut dalam Bai’at
Ridhwan.
Sahabat Abdullah bin Umar telah
menjawab tuduhan-tuduhan tersebut sebagaimana yang telah diriwayatkan oleh
Al-Imam Al-Bukhari:
Seorang laki-laki datang dari Mesir
untuk berhaji, lalu ia melihat suatu kaum tengah duduk-duduk. Ia bertanya,
“Siapa mereka?” Lalu dijawab, “Mereka adalah orang-orang Quraisy.” Ia berkata,
“Siapa syaikh mereka?” Mereka menjawab, “Abdullah bin Umar.” Lalu ia bertanya,
“Wahai Abdullah bin Umar, aku akan menanyakan beberapa hal kepadamu. Apakah
engkau tahu bahwa Utsman telah lari dalam Perang Uhud?” Beliau menjawab,
“Benar.” Ia melanjutkan, “Apakah engkau tahu bahwa ia juga telah absen dari
Perang Badar?” Beliau menjawab, “Benar.” Ia bertanya lagi, “Apakah engkau tahu
bahwa ia juga telah absen dalam Bai’at Ridhwan?” Beliau menjawab, “Benar.” Lalu
laki-laki itu mengatakan, “Allahu Akbar!!”
Ibnu Umar mengatakan, “Kemarilah,
aku akan jelaskan kepadamu. Adapun Utsman telah lari dalam Perang Uhud maka aku
bersaksi bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memaafkannya, karena
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
إِنَّ الَّذِينَ تَوَلَّوْا مِنكُمْ
يَوْمَ الْتَقَى الْجَمْعَانِ إِنَّمَا اسْتَزَلَّهُمُ الشَّيْطَانُ بِبَعْضِ
مَاكَسَبُوا وَلَقَدْ عَفَا اللهُ عَنْهُمْ إِنَّ اللهَ غَفُورٌ حَلِيمٌ
“Sesungguhnya orang-orang yang
berpaling di antaramu pada hari bertemu dua pasukan itu, hanya saja mereka
digelincirkan oleh setan, disebabkan sebagian kesalahan yang telah mereka
perbuat (di masa lampau) dan sesungguhnya Allah telah memberi maaf kepada
mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun.”(Q.S.
Ali-Imran: 155)
Adapun beliau absen dalam Perang
Badar karena tatkala istri beliau yaitu putri Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wa sallam sedang sakit keras, sehingga ia diizinkan untuk tidak hadir dalam
peperangan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan
kepadanya, “Sesungguhnya bagimu seperti pahalanya orang yang ikut menyaksikan
Perang Badar.” Dan mengenai absennya beliau dalam Bai’at Ridhwan karena
seandainya ada orang yang lebih mulia dari Utsman di Mekah maka Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam akan mengutusnya ke Mekah, maka tatkala Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam mengutusnya, beliau mengatakan ini adalah bai’atnya
Utsman.” Setelah itu Ibnu Umar mengatakan kepada laki-laki tersebut, “Sekarang
pergilah engkau.”
Wafatnya
Utsman bin Affan Khalifah
Tatkala syubhat-syubhat – yang
hakikatnya lemah tersebut – tidak dapat terbendung maka api kebencian telah
menyulut pada hati-hati para pemberontak. Akhirnya, mereka datang ke Madinah
dan mengepung rumah Utsman. Mereka meminta agar Utsman meninggalkan
kekhalifahannya atau mereka akan membunuhnya.
Namun, Ibnu Umar segera masuk
menemui Utsman dan mendorongnya agar ia jangan sampai menanggalkan
kekhalifahannya karena berarti itu telah membuat sunah yang jelek, sehingga setiap
kali manusia tidak menyenangi pemimpinnya, maka mereka akan mencopot paksa
kepemimpinan tersebut. Utsman pun menyadari bahwa inilah fitnah yang sejak
jauh-jauh hari telah diberitakan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa
sallam. Karena itu, Utsman hanya bisa bersabar dan menyerahkan urusannya
kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Akhirnya, orang-orang Khawarij
tersebut memanjat rumah Utsman, lalu pedang-pedang mereka mengalirkan darah
Utsman yang suci sedang beliau tengah berpuasa dan membaca kitabullah, hingga
tetesan darah pertama tatkala membaca,
فَسَيَكْفِيكَهُمُ اللهُ وَهُوَ
السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
“Maka Allah akan memelihara kamu
dari mereka. Dan Dialah yang Maha mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Q.S.
Al-Baqarah: 137)
Di malam hari sebelum Utsman meninggal
dunia, ia bermimpi bertemu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan
beliau mengatakan, “Wahai Utsman, berbukalah bersama kami.” Dan tatkala
shubuh ia berpuasa dan meninggal dunia di hari itu juga.
Mutiara
Teladan
Beberapa pelajaran berharga di antaranya:
- Aksi demonstrasi dan protes adalah buah teladan dari kaum Khawarij, dengan berpijak pada syubhat-syubhat yang lemah mereka menghalalkan yang haram. Pada hakikatnya mereka adalah orang-orang yang senang membuat kerusakan di muka bumi.
- Merupakan kewajiban seorang mukmin tatkala menerima berita hendaklah untuk tasabbut (mencari kebenaran berita) terlebih dahulu, jangan langsung asal percaya. Terlebih lagi kalau berita itu datang dari orang-orang fasik yang tidak menjaga muru’ah. Alquran mengajari kita berhati-hati dalam menerima berita-berita yang belum jelas sumbernya apalagi yang menyangkut kehormatan kaum muslimin.
- Figur Utsman adalah teladan bagi kita dalam membelanjakan harta yang telah diberikan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka hendaknya para saudagar kaya, para konglomerat, sadar bahwa harta akan bermanfaat baginya bila digunakan untuk menunjang kehidupan akhirat yang kekal.
Sumber: Majalah Al-Furqon, Edisi 08 Tahun ke-10 Muharram
1431 H/2010
Langganan:
Postingan (Atom)


